BERITAPERS || Wae Tuoe, Lanrisang – Jumat, 31 Oktober 2025. Setiap hari Jumat pagi, suasana di SDN 63 Wae Tuor, Kecamatan Lanrisang, terasa begitu khusyuk dan penuh kedamaian. Seluruh warga sekolah — mulai dari guru hingga peserta didik — mengikuti kegiatan “Jumrasa” (Jum’at Yasinan dan Dhuha Penuh Rasa), sebuah kegiatan spiritual rutin yang menumbuhkan rasa damai, bahagia, dan cinta kepada Allah SWT.
Kegiatan ini diawali dengan shalat Dhuha berjamaah, dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin yang dipandu langsung oleh para ibu guru. Melalui kegiatan ini, sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai religius, membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia, serta menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini.
Kepala SDN 63 WaeTuoe, Andi Bau Tenri Ampa, S.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan Jumrasa merupakan bentuk nyata dari pembinaan karakter religius di lingkungan sekolah.
“Kami ingin menanamkan nilai-nilai spiritual kepada anak-anak sejak dini. Pembacaan Yasin dan pelaksanaan salat Dhuha setiap Jumat bukan hanya rutinitas, tetapi juga sarana membentuk akhlak mulia, membiasakan mereka dekat dengan Al-Qur’an, dan memupuk rasa syukur,” ujarnya.
Sementara itu, guru pembimbing kegiatan, Malika, S.Pd.I., menjelaskan bahwa kegiatan Jumrasa tidak hanya mempererat hubungan antara siswa dan guru, tetapi juga menumbuhkan suasana hati yang penuh ketenangan.
“Kegiatan spiritual ini menumbuhkan rasa damai, bahagia, dan cinta kepada Allah SWT. Anak-anak terlihat antusias, mereka belajar menikmati ibadah dengan penuh keikhlasan dan kebersamaan,” ungkapnya.
Kegiatan seperti ini mampu menciptakan iklim sekolah yang religius dan penuh kebersamaan.
“Melalui pembacaan Yasin dan Dhuha bersama, suasana sekolah menjadi lebih harmonis. Anak-anak semakin disiplin, saling menghargai, dan lebih tenang dalam belajar,” tutur ibu Malika.
Selain pembacaan Yasin dan salat Dhuha, kegiatan juga diisi dengan doa bersama untuk keselamatan, kesehatan, serta kelancaran seluruh warga sekolah.
Program Jumrasa di SDN 63 WaeTuoe menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga spiritual dan moral. Dengan pembiasaan ini, sekolah berharap seluruh siswa tumbuh menjadi generasi yang berkarakter kuat, berakhlak mulia, serta selalu berpegang pada nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. (MLP)










