BeritaPers. Ragam || Di tengah dunia yang semakin sibuk dengan gawai dan urusan personal, ada sebuah desa di Sulawesi Selatan yang seolah menjadi penjaga waktu. Desa Bolaromang bukan sekadar titik di peta; ia adalah bukti hidup bahwa gotong royong bukanlah artefak sejarah yang berdebu di buku pelajaran, melainkan “harta karun” yang masih berkilau hingga hari ini.
Bukan Tentang Apa, Tapi Tentang Siapa
Jika Anda berkunjung ke Bolaromang, jangan terkejut jika melihat puluhan orang berkumpul untuk memperbaiki saluran irigasi atau membangun rumah tanpa ada kontrak kerja formal. Di sini, sistem “pembayaran” tidak menggunakan uang digital atau transfer bank. Bayarannya adalah kopi hangat, penganan lokal, dan yang terpenting: rasa persaudaraan.
Tradisi ini adalah mesin waktu yang nyata. Saat masyarakat urban mulai merasa terasing dari tetangga sebelah rumah, warga Bolaromang justru mempererat ikatan. Mereka membuktikan bahwa beban seberat apa pun akan terasa ringan jika dipikul bersama. Inilah harta karun yang tak lekang oleh zaman—sebuah modal sosial yang tidak bisa dibeli dengan saham atau kripto.
Mengapa Gotong Royong Bolaromang Begitu Istimewa?
Ada beberapa alasan mengapa tradisi di desa ini patut kita lirik kembali:

Ketahanan Sosial: Di saat krisis melanda, warga Bolaromang tidak merasa sendirian. Mereka memiliki jaring pengaman bernama kepedulian.
Pewarisan Nilai: Gotong royong di sini bukan hanya milik orang tua. Anak-anak muda terlibat langsung, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana harmoni diciptakan lewat kerja bakti.
Efisiensi Alami: Banyak masalah infrastruktur desa selesai lebih cepat tanpa harus menunggu birokrasi yang panjang, berkat inisiatif kolektif.
Menjaga “Api” Tetap Menyala
Tantangan zaman memang berat. Arus modernisasi seringkali membawa sifat individualisme yang kuat. Namun, Bolaromang memberikan kita sebuah pelajaran berharga: Kemajuan teknologi tidak harus membunuh nilai kemanusiaan.
Kita tidak perlu pindah ke Bolaromang untuk merasakan keajaiban ini. Kita hanya perlu mengambil sedikit “percikan api” dari tradisi mereka untuk diterapkan di lingkungan kita sendiri. Mulailah dengan menyapa tetangga, atau menawarkan bantuan kecil tanpa diminta.
“Gotong royong di Bolaromang mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati sebuah bangsa tidak terletak pada gedung-gedung pencakar langitnya, melainkan pada tangan-tangan yang masih mau saling menggenggam untuk tujuan mulia.”

Kesimpulannya, tradisi Bolaromang adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa di balik kemajuan zaman, kita tetaplah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain. Harta karun itu ada di sana, di Bolaromang, dan ia menunggu untuk kita temukan kembali di hati kita masing-masing.






















Discussion about this post