Beritapers.com. Makassar — SD Islam Cendekia Muda School menggelar seminar parenting bertajuk Beyond Academics: Preparing Children for School di Jasmin Ballroom Hotel Claro, Jalan A.P. Pettarani No. 03, Makassar, Ahad (15/2/2026) pukul 09.00–12.00 WITA.
Kegiatan ini dirancang untuk membantu orang tua memahami bahwa kesiapan anak memasuki sekolah tidak cukup diukur dari kemampuan akademik semata, tetapi harus dilihat secara utuh—emosi, sosial, karakter, dan iman.
Seminar menghadirkan Founder Cendekia Muda School, Ir. Reyhanani Bahar Syamsul, M.Pd, serta psikolog anak Titin Florentina Purwasetiawatik, S.Psi., M.Psi. Diskusi dipandu moderator Leila Ratnasari, S.Sos., M.I.Kom., C.T. Selain talkshow, peserta mengikuti sesi sharing interaktif, tes kesiapan sekolah, hingga screening untuk anak berkebutuhan khusus.
Konsep Beyond Academics yang diusung menekankan bahwa masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor, melainkan oleh karakter, kemandirian, dan kematangan emosionalnya.
Dalam pemaparannya, Kepala Sekolah Cendikia Muda Makassar Reyhanani menegaskan bahwa paradigma kesiapan sekolah perlu diluruskan. Menurutnya, banyak orang tua masih mengidentikkan “siap sekolah” dengan lancar membaca, menulis, dan berhitung. Padahal, dalam kerangka Allah-Centered Education, ukuran kesiapan jauh lebih mendasar.
“Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya ‘Apakah anak saya sudah bisa calistung?’, tetapi ‘Apakah ia siap bertumbuh sebagai hamba Allah?’,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kesiapan sekolah mencakup rasa aman, kemampuan regulasi emosi, keterampilan sosial, rasa percaya diri, rasa ingin tahu, serta keyakinan yang benar kepada Allah. Menurutnya, karakter tidak lahir dari target akademik, tetapi dari belief system yang kokoh.
“Character building dimulai dari belief system. Ketika anak memiliki pemahaman yang benar tentang Allah sebagai Rabb, Ilah, dan Malik, maka dari sanalah karakter bertumbuh,” jelasnya.
Pendidikan sebagai Ibadah, Guru sebagai Murabbi
Reyhanani juga mengajak orang tua mengubah cara pandang terhadap pendidikan. Anak, katanya, bukan proyek prestasi, melainkan amanah. Guru pun tidak sekadar pengajar, tetapi murabbi—pendidik yang membersamai proses tumbuh kembang anak.
“Pendidikan bukan kompetisi, melainkan ibadah,” tegasnya.
Di Cendekia Muda School, pembelajaran dirancang secara holistik dan bertahap. Sekolah tidak mempercepat fase perkembangan anak, melainkan memperkuat fondasi emosi dan karakter terlebih dahulu. Bermain menjadi bagian penting dalam stimulasi awal, khususnya di jenjang TK dan SD.
Pendekatan authentic learning diterapkan agar anak belajar melalui proses—dari mengenal, memahami, hingga menghasilkan karya. “Pemahaman yang utuh terlihat saat anak mampu berkarya,” katanya.
Assessment sebagai Refleksi, Bukan Tekanan
Dalam hal evaluasi, sekolah menerapkan authentic assessment yang tidak sekadar menilai benar atau salah, tetapi juga proses berpikir dan cara anak memecahkan masalah nyata.
“Assessment adalah refleksi, bukan tekanan,” ujarnya.
Pembelajaran lintas bidang studi juga diintegrasikan melalui program Project Day dan Exploration Day agar anak belajar secara kontekstual, melatih kolaborasi dan kemampuan problem solving. “Anak tidak sekadar belajar mata pelajaran, tetapi belajar kehidupan,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa Beyond Academics berarti membangun iman sebelum keterampilan, menguatkan karakter sebelum kompetensi, serta menumbuhkan regulasi emosi sebelum mengejar target akademik.
Transisi ke SD: Tantangan Besar bagi Anak dan Orang Tua
Sementara itu, psikolog anak Titin Florentina Purwasetiawatik menyoroti bahwa masuk SD adalah salah satu fase transisi terbesar dalam masa kanak-kanak. Dunia yang sebelumnya didominasi bermain bebas berubah menjadi sistem formal dengan aturan, target, dan penilaian.
“Anak perlu belajar fokus, mengikuti instruksi, memahami aturan, serta beradaptasi dengan teman sebaya,” jelasnya.
Ia menggambarkan dinamika awal masuk sekolah yang kerap diwarnai tangisan, kecemasan berpisah, hingga reaksi emosional lainnya. Respons orang tua pun beragam—dari yang menunggu di luar kelas hingga yang tak tega melepas anaknya.
Menurutnya, kesiapan sekolah harus dipahami secara holistik, mencakup aspek fisik-motorik, kognitif, serta sosial-emosional.
Aspek fisik meliputi motorik kasar dan halus serta stamina untuk mengikuti kegiatan sekolah selama 4–5 jam. Aspek kognitif mencakup kemampuan bahasa, memori, rasa ingin tahu, dan pemecahan masalah. Sementara aspek sosial-emosional meliputi kemampuan berpisah dari orang tua, berbagi, mengikuti aturan, mengelola emosi, hingga kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
Ia menekankan bahwa kesiapan sosial-emosional sering kali lebih prediktif terhadap keberhasilan akademik jangka panjang dibanding sekadar kemampuan calistung.
Peran Orang Tua: Stimulasi Lewat Bermain
Titin mengingatkan bahwa stimulasi terbaik diberikan melalui bermain, bukan drill akademik berlebihan. Orang tua dapat melatih kemandirian anak dengan aktivitas sederhana seperti memakai baju sendiri, makan tanpa disuapi, serta merapikan barang.
Membacakan buku cerita, membangun rutinitas harian yang terstruktur, mengenalkan lingkungan sekolah sebelum hari pertama, serta menjaga pola tidur dan nutrisi juga menjadi langkah penting.
Hal yang perlu dihindari, menurutnya, adalah memaksakan calistung terlalu dini, membandingkan anak dengan teman sebaya, menakut-nakuti anak soal sekolah, serta bersikap terlalu protektif.
Ikhtiar Maksimal, Serahkan Hidayah kepada Allah
Di akhir sesi, Titin mengingatkan bahwa teknologi mungkin membantu, tetapi peran orang tua dalam pengasuhan tidak tergantikan. Ia mengajak orang tua berikhtiar maksimal dalam mempersiapkan anak, sembari menyadari bahwa hidayah tetap milik Allah.
Seminar ditutup dengan pesan agar orang tua mempersiapkan anak dengan cinta, kesabaran, dan kolaborasi bersama guru, sehingga transisi ke SD menjadi pengalaman yang positif dan membangun.
Tentang Cendekia Muda School
Cendekia Muda School merupakan lembaga pendidikan Islam yang mengusung pendekatan Allah-Centered Education dengan fokus pada pembentukan belief system sebagai fondasi karakter.
Pembelajaran dirancang secara holistik melalui pendampingan hangat, authentic learning, penilaian reflektif, serta program terintegrasi seperti Project Day dan Exploration Day.
Sekolah ini berkomitmen menumbuhkan anak secara seimbang—iman, akhlak, emosi, sosial, dan akademik.
“Pendidikan berpusat pada Allah membangun iman, emosi, dan karakter sebelum keterampilan,” tutup Reyhanani.










