BeritaPers. Pendidikan || Dunia literasi Indonesia kembali diperkaya dengan kehadiran sebuah karya pemikiran yang tajam dan menggugah kesadaran religius. Memasuki medio Maret 2026, penulis produktif asal Makassar, Muh Anwar HM, resmi meluncurkan buku terbarunya berjudul “Tuhan Tidak Butuh Laparmu (Menguliti Puasa Para Pendusta)”. Buku setebal 172 halaman ini diterbitkan oleh Goresan Pena, Kuningan, Jawa Barat, dan hadir sebagai referensi non-fiksi yang provokatif namun sarat akan nilai reflektif.
Kehadiran buku dengan nomor ISBN 978-634-242-582-4 ini bukan sekadar menambah deretan koleksi di rak perpustakaan, melainkan sebuah upaya dekonstruksi terhadap pemahaman ibadah yang seringkali terjebak pada formalitas belaka. Muh Anwar HM, yang dikenal sebagai akademisi sekaligus pakar teknologi pikiran, membawa perspektif yang unik dalam membedah esensi puasa dari sudut pandang yang lebih dalam dan psikologis.
Dalam pengantarnya, Muh Anwar HM mengungkapkan bahwa kegelisahan intelektualnya menjadi pemantik utama lahirnya karya ini. Menurutnya, banyak orang terjebak dalam ritualitas tahunan yang hanya menyisakan lapar dan haus tanpa transformasi karakter. Ia ingin menegaskan bahwa Tuhan tidak memerlukan penderitaan fisik hamba-Nya jika tidak dibarengi dengan kejujuran spiritual dan kebersihan hati.
Tujuan utama penulisan buku ini adalah untuk “menguliti” lapisan-lapisan kepalsuan yang sering menyertai ibadah. Penulis mengajak pembaca untuk bertanya kembali: apakah puasa kita telah mengubah perilaku, ataukah kita hanya sedang menjadi “pendusta” yang memindahkan jam makan namun tetap memelihara penyakit hati? Sasaran pembacanya mencakup kalangan akademisi, praktisi pendidikan, hingga masyarakat umum yang merindukan kedalaman makna dalam beragama.
Karakter tulisan Muh Anwar dalam buku ini mencerminkan sosoknya yang kritis, tegas, namun tetap edukatif. Sebagai CEO Indonesian Teaching Mind Technology (ITMT), ia piawai menyisipkan pendekatan mindset yang membuat narasi agama terasa lebih relevan dengan tantangan zaman. Gaya bahasanya yang lugas seolah menjadi cermin retak bagi pembaca untuk melihat kekurangan diri dengan jujur.

Proses kreatif buku ini juga tak lepas dari sentuhan dingin Sitti Zakiyah AM sebagai editor. Peran Sitti Zakiyah sangat krusial dalam menjaga ritme bahasa agar tetap mengalir dan mudah dicerna tanpa mengurangi bobot esensi pemikiran penulis. Kolaborasi apik antara penulis dan editor ini memastikan bahwa setiap pesan tajam di dalam buku tersampaikan dengan diksi yang elegan namun tetap menghunjam.
Dukungan dan apresiasi datang dari berbagai tokoh lintas bidang, salah satunya adalah Dr. K.H. Ayub Handrihadi, M.Pd.i., C.Mtr., C.MQ., C.MAI. Beliau yang merupakan Founder Yayasan & Pondok Pesantren RTQ Tarakan sekaligus Ketua Fatwa MUI Tarakan, memberikan catatan penting terhadap karya ini. Menurut Kyai Ayub, buku ini adalah oase di tengah gersangnya pemahaman spiritual yang dangkal.
“Muh Anwar HM adalah sosok intelektual yang berani. Ia tidak hanya menulis dengan tinta, tapi dengan keresahan jiwa yang murni. Buku ini wajib menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin naik kelas dalam beribadah,” ungkap Dr. K.H. Ayub Handrihadi. Beliau memuji keberanian penulis dalam menyuarakan kebenaran yang seringkali pahit untuk didengar namun sangat diperlukan oleh umat.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Drs. Usman DP., M.Pd., MM, seorang akademisi dari STIT Darul Ulum Kota Baru yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Hilir Muara dan tokoh olahraga, turut memberikan pandangannya. Beliau melihat buku ini sebagai jembatan antara teori akademik dan realitas sosial di masyarakat yang seringkali paradoks dalam menjalankan nilai agama.
“Penulis memiliki kemampuan luar biasa dalam memotret realitas sosial. Muh Anwar HM mampu menyederhanakan konsep yang kompleks menjadi narasi yang membumi. Buku ini bukan hanya tentang agama, tapi tentang integritas manusia dalam menjalani hidup,” ujar Dr. Usman DP dalam testimoninya. Ia memuji konsistensi penulis yang terus mendedikasikan ilmunya untuk mencerahkan publik melalui literasi.
Buku cetakan pertama Maret 2026 ini diharapkan mampu menjadi pemicu diskusi-diskusi sehat di ruang publik. Dengan kategori referensi non-fiksi, “Tuhan Tidak Butuh Laparmu” diprediksi akan menjadi salah satu buku yang paling banyak dibicarakan tahun ini, mengingat topiknya yang sangat dekat dengan momen spiritual masyarakat Indonesia namun disajikan dengan cara yang tidak biasa.
Penerbit Goresan Pena menyatakan bahwa buku ini merupakan salah satu koleksi paling berani yang mereka terbitkan tahun ini. Kualitas cetakan dan tata letak yang profesional mendukung kenyamanan pembaca dalam menelusuri bab demi bab yang penuh dengan kejutan pemikiran. Hal ini membuktikan bahwa sinergi antara penulis Makassar dan penerbit Jawa Barat mampu menghasilkan karya berskala nasional.
Keunggulan lain dari buku ini terletak pada kemampuannya untuk mengawinkan aspek teologis dengan pendekatan psikologi modern. Penulis tidak hanya mengutip dalil, tetapi juga membedah mekanisme pikiran manusia yang seringkali mencari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang dibungkus dengan label ibadah. Inilah yang membuat buku ini terasa sangat personal bagi setiap pembaca.
Sebagai penutup narasi peluncurannya, Muh Anwar HM menekankan bahwa buku ini bukanlah serangan bagi mereka yang berpuasa, melainkan sebuah ajakan untuk mencintai Tuhan dengan cara yang lebih jujur. “Jangan sampai kita hanya mendapatkan lelah, sementara esensi keilahian terbang menjauh karena kita lebih memilih menjadi pendusta di hadapan-Nya,” pesannya singkat namun penuh makna.
Peluncuran ini juga menandai babak baru bagi karier kepenulisan Muh Anwar HM yang semakin mantap di jalur literasi kritis-edukatif. Di tengah kesibukannya sebagai pimpinan program studi dan pemimpin media, ia membuktikan bahwa produktivitas intelektual adalah kunci untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
Buku “Tuhan Tidak Butuh Laparmu” kini sudah dapat dipesan melalui kanal resmi Penerbit Goresan Pena maupun distributor buku di seluruh Indonesia. Sebuah karya yang akan mengajak Anda berhenti sejenak, menarik napas dalam, dan bertanya: “Untuk siapa sebenarnya aku berpuasa selama ini?”
Dengan hadirnya karya ini, Muh Anwar HM sekali lagi menegaskan posisinya sebagai pemikir yang tidak hanya piawai dalam berteori di ruang kelas, tetapi juga tajam dalam membedah realitas melalui mata pena. Sebuah ajakan jujur untuk berhenti berbohong kepada diri sendiri dan kepada Sang Pencipta.






















Discussion about this post