BeritaPers || Gowa– Dunia masih terlelap dalam buaian mimpi, dan sebagian besar orang memilih kembali ke balik hangatnya selimut usai bersujud subuh. Namun, denyut ambisi justru berdetak lebih kencang di sudut mushola asrama Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan (INASS), menghadirkan pemandangan luar biasa yang tersaji setiap fajar. Antusiasme puluhan pasang mata tertuju pada layar laptop, berjuang menjinakkan teknologi digital, alih-alih menyerah pada rasa kantuk. Aktivitas ini menjadi pernyataan tegas bahwa mahasiswa asrama INASS menolak untuk tertinggal dalam persaingan zaman.
Waktu yang paling berkah dan produktif ini menjadi saksi para pejuang fajar memahat masa depan di lingkungan Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan (INASS), di bawah bimbingan senior Sopyan Sauri dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Otak yang masih jernih berpadu dengan doa-doa yang baru saja melangit, menciptakan suasana belajar ICT yang intensif dan penuh konsentrasi. Ketelatenan dalam berbagi ilmu ini membuktikan bahwa latar belakang keilmuan ekonomi bukanlah penghalang untuk menguasai teknologi informasi. Tradisi emas ini menjadi keunggulan langka, sebuah dedikasi tanpa batas untuk mencuri start menuju gerbang kesuksesan digital. Mereka yang mampu menaklukkan diri di waktu subuh adalah mereka yang kelak akan menaklukkan dunia dengan kompetensi dan kemandirian.
Dalam pelaksanaannya, Sopyan tidak sendirian. Ia didampingi oleh tim mentor yang terdiri dari Fadil, Resky Wahyuni, Ainun, dan Lisna yang secara sigap membantu para peserta memahami seluk-beluk teknis ICT secara personal. Kegiatan ini semakin berkesan karena berlangsung di lingkungan asrama INASS dan turut dihadiri serta didukung penuh oleh para pembina asrama, yakni Pak Dahlan dan Pak Angkilang, yang senantiasa mengawasi sekaligus memotivasi mahasiswa untuk terus konsisten dalam menuntut ilmu. Kolaborasi antara aspek religius dan intelektualitas ini menciptakan atmosfer belajar yang unik, inkubasi skill yang diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga kompeten secara digital dan siap bersaing di kancah profesional.
Di bawah bimbingan Sopyan dan timnya, serta dukungan moral dari para pembina, setiap klik pada keyboard dan baris kode yang dipelajari menjadi langkah pasti menuju kemandirian teknologi. Hal ini sekaligus mempertegas posisi asrama Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan (INASS) bukan sekadar tempat tinggal, melainkan kawah candradimuka bagi para pemimpin masa depan yang melek digital. Dengan konsistensi yang terjaga setiap harinya, tradisi fajar ini perlahan membangun standar baru dalam dunia pendidikan, membuktikan bahwa fajar bukan hanya penanda pergantian hari, melainkan momentum emas untuk membuka cakrawala pengetahuan yang lebih luas bagi mereka yang berani melangkah lebih awal.






















Discussion about this post