BeritaPers. Makassar || Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Indonesia (STIMI) Yapmi Makassar melaksanakan kegiatan akademik Seminar Proposal Tahap II yang berlangsung di kampus STIMI Yapmi Makassar, Rabu (13/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan tim penguji terdiri atas Dr. Hendriadi, Dr. H. Nurdin, Dr. Syahrikal, dan Nurapani Aulia Sulkipli.
Dalam kegiatan tersebut, dosen penguji Dr. H. Nurdin menegaskan bahwa ujian proposal penelitian tidak boleh dipandang sekadar sebagai tahapan administratif sebelum mahasiswa melakukan penelitian. Menurutnya, ujian proposal merupakan proses akademik penting yang menentukan arah, kualitas, hingga keberhasilan sebuah penelitian ilmiah.
Ia menjelaskan bahwa dalam forum seminar proposal, mahasiswa tidak hanya menyampaikan ide penelitian, tetapi juga diuji terkait kemampuan menyusun rancangan penelitian secara sistematis dan ilmiah. Mulai dari ketepatan rumusan masalah, landasan teori, metode penelitian, hingga tujuan penelitian menjadi aspek penting yang harus dipertanggungjawabkan secara akademik.
“Banyak penelitian mengalami hambatan karena lemahnya perencanaan sejak tahap proposal. Kesalahan kecil seperti ketidaktepatan metode, rumusan masalah yang kurang fokus, atau minimnya referensi ilmiah dapat berdampak besar terhadap hasil penelitian,” ujarnya.
Menurutnya, ujian proposal menjadi “filter awal” untuk mencegah terjadinya kesalahan akademik yang lebih kompleks ketika penelitian berlangsung di lapangan. Melalui kritik dan masukan dari dosen penguji, mahasiswa memiliki kesempatan memperbaiki rancangan penelitiannya agar lebih matang dan terarah.

Di tempat yang sama, Dr. Syahrikal menyampaikan bahwa penelitian berkualitas lahir dari proses perencanaan yang baik. Proposal penelitian, kata dia, menjadi fondasi utama karena memuat arah penelitian, teknik pengumpulan data, hingga strategi analisis yang akan digunakan peneliti.
“Jika fondasi penelitian lemah, maka hasil penelitian berisiko tidak valid dan sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ungkapnya. Ia juga menilai bahwa ujian proposal merupakan bagian penting dari budaya akademik dalam menjaga mutu karya ilmiah dan membentuk karakter peneliti yang kritis, teliti, serta bertanggung jawab.
Sementara itu, Dr. H. Nurdin kembali menambahkan bahwa paradigma mahasiswa terhadap ujian proposal perlu diubah. Tahap tersebut bukan sekadar formalitas menuju penyusunan skripsi, melainkan penentu awal apakah penelitian dapat berjalan secara valid, terarah, dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Seminar Proposal Tahap II tersebut diikuti tujuh mahasiswa, yakni Ikhwan Saldi, Maulinda, Dendy Gunarsa Abadi Lau, Asrullah Saputra, Samsul Bahri Samiun, Dina Anggraeni, dan Nur Fitra Indah Sari. Kegiatan berlangsung dalam suasana akademik yang aktif dengan diskusi ilmiah antara mahasiswa dan tim penguji.






















Discussion about this post