BeritaPers || Jeneponto – Semangat petualangan kembali menggema di kawasan Bulu Pengka, sebuah perbukitan yang berada di Dusun Bontolebang, Desa Marayoka, Kabupaten Jeneponto, Sabtu (6/6/2026). Sebanyak tujuh pendaki berhasil mencapai puncak setelah melalui perjalanan yang penuh tantangan, tidak hanya di jalur pendakian, tetapi juga sejak tahap perencanaan keberangkatan.
Tim pendaki yang terdiri dari Angkilang, Sigit, Ika, Yuli, Rahmatullah, Aura, dan Almira telah merancang pendakian ini sejak beberapa waktu lalu. Namun, perjalanan menuju puncak ternyata dimulai jauh sebelum mereka menginjakkan kaki di jalur pendakian. Menyatukan waktu luang tujuh orang dengan aktivitas dan kesibukan masing-masing menjadi tantangan pertama yang harus mereka hadapi.
Beberapa kali rencana keberangkatan harus ditunda. Kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, hingga pertimbangan kondisi cuaca membuat jadwal yang telah disusun berulang kali mengalami perubahan. Diskusi demi diskusi dilakukan hingga akhirnya mereka sepakat memilih Sabtu, 6 Juni 2026, sebagai waktu yang tepat untuk memulai perjalanan.
Kesepakatan tersebut menjadi awal dari sebuah petualangan yang menghadirkan pengalaman berharga. Sejak memulai langkah dari kaki bukit, suasana santai dan penuh canda masih mewarnai perjalanan. Namun, seiring bertambahnya ketinggian, karakter asli Bulu Pengka mulai menunjukkan tantangannya.
Jalur yang didominasi tanjakan curam, bebatuan, dan beberapa titik yang cukup licin membuat para pendaki harus meningkatkan kewaspadaan. Setiap langkah memerlukan perhitungan yang matang. Beberapa kali rombongan berhenti untuk mengatur napas, mengisi kembali tenaga, sekaligus menikmati panorama alam yang tersaji di sepanjang perjalanan.
Menurut Angkilang, Bulu Pengka memiliki medan yang tidak bisa dianggap ringan. Meskipun bukan termasuk gunung dengan ketinggian ekstrem, jalurnya cukup menguras tenaga dan membutuhkan kesiapan fisik serta mental.
Bulu Pengka mengajarkan bahwa perjalanan tidak selalu mudah. Medannya menantang dan membutuhkan kehati-hatian. Di beberapa titik, kita harus benar-benar fokus karena satu langkah yang kurang tepat bisa membuat kita kehilangan keseimbangan, ujarnya. Di balik medan yang menantang, Bulu Pengka menawarkan panorama yang memanjakan mata. Hamparan perbukitan hijau, udara pegunungan yang segar, serta pemandangan wilayah Jeneponto dari ketinggian menjadi hadiah tersendiri bagi para pendaki. Keindahan tersebut seolah menjadi pengobat rasa lelah yang perlahan muncul sepanjang perjalanan.
Meski demikian, perjalanan menuju puncak tidak selalu berjalan mulus. Ada momen ketika tenaga mulai berkurang dan langkah terasa semakin berat. Namun, kebersamaan menjadi kekuatan utama yang menjaga semangat seluruh anggota tim. Saat ada yang tertinggal, yang lain memilih menunggu. Ketika ada yang mulai kelelahan, rekan-rekan memberikan dukungan dan motivasi untuk terus melanjutkan perjalanan.
Setelah beberapa jam menaklukkan medan yang menantang, rombongan akhirnya berhasil mencapai puncak Bulu Pengka. Sorak kegembiraan dan rasa syukur pun pecah di antara mereka. Namun, bagi para pendaki, keberhasilan tersebut bukan semata-mata tentang berdiri di titik tertinggi atau mengabadikan foto di atas puncak. Pendakian ini mengajarkan bahwa yang paling berharga bukanlah puncaknya, melainkan proses untuk sampai ke sana, ungkap Sigit salah satu peserta pendakian.
Pernyataan tersebut menjadi gambaran dari keseluruhan perjalanan yang mereka lalui. Mulai dari drama menentukan jadwal keberangkatan, mempersiapkan perlengkapan, menghadapi jalur yang menguras tenaga, hingga saling menguatkan selama perjalanan, semuanya menjadi bagian dari cerita yang tidak terlupakan.
Pendakian Bulu Pengka kali ini membuktikan bahwa sebuah perjalanan tidak hanya berbicara tentang tujuan akhir. Lebih dari itu, perjalanan adalah ruang untuk belajar tentang kesabaran, kerja sama, perjuangan, dan arti kebersamaan. Sebab pada akhirnya, puncak hanyalah sebuah titik tujuan, sementara proses menuju ke sana adalah kisah yang akan terus dikenang.





















Discussion about this post