Justru, kata beliau, Islam telah sejak awal mengangkat derajat perempuan sebgaimana kisah dalam Islam, dan di Indonesia Kartini menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai itu bisa diaktualisasikan dalam konteks lokal dan modern.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, dengan peserta yang aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan. Para peserta mengaku terinspirasi untuk lebih mendalami kontribusi perempuan dalam sejarah dan dalam kerangka nilai-nilai Islam yang inklusif.
Beliau mengutip karya-karya Kartini, seperti Habis Gelap Terbitlah Terang dan Panggil Aku Kartini Saja, yang menjadi refleksi pemikiran progresif Kartini pada zamannya. Salah satu kutipan yang diangkat dan menjadi sorotan peserta adalah:
“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahirlah pagi membawa keindahan. Begitu juga nasib manusia.” – R.A. Kartini
Dr. Halimah menambahkan, “Semangat Kartini adalah semangat perubahan yang digerakkan oleh ilmu. Dalam Islam, perempuan tidak hanya dihargai, tetapi juga dimuliakan ketika ia mencari ilmu dan membangun peradaban.”
Diskusi berlangsung penuh semangat, diwarnai tanya jawab yang mencerminkan kegelisahan dan harapan perempuan muda terhadap masa depan mereka sebagai agen perubahan. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang refleksi akan pentingnya mewarisi semangat perjuangan Kartini dalam konteks kekinian.
Kegiatan ini menjadi refleksi penting tentang bagaimana warisan pemikiran Kartini dalam perspektif Islam masih relevan dan terus memberi semangat perjuangan bagi perempuan muda Indonesia, khususnya di kalangan mahasiswa.
(Andi Halimah)





















Discussion about this post