Beritapers.com, Jakarta – Di salah satu sudut kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Jakarta, jamu menampakkan wajah baru. Tak lagi sekadar minuman tradisional yang diwariskan dari dapur ke dapur, jamu kini hadir sebagai pengalaman budaya yang dikurasi, dirayakan, dan dibalut bahasa zaman.
Rabu (4/2/2026), Taruna Ikrar, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), meresmikan Cafe Jamu Indonesia. Keberadaan kafe ini menjadi penanda bahwa jamu tengah melangkah ke babak baru sejarahnya.
Bagi Taruna, jamu bukan sekadar soal nostalgia. Ia melihat jamu sebagai warisan pengetahuan, kekayaan biodiversitas, sekaligus potensi ekonomi kreatif yang belum sepenuhnya digarap.
“Indonesia memiliki sekitar 18.000 jenis jamu dan lebih dari 600.000 ragam kuliner tradisional,” ujar Taruna.
Menurutnya, angka tersebut mencerminkan kekayaan pengetahuan lokal sekaligus peluang besar bagi kesehatan masyarakat dan daya saing ekonomi berbasis budaya.
Di PIK 2, jamu hadir dalam bentuk yang lebih akrab bagi generasi urban: ruang estetis, narasi informatif, dan produk yang dirancang mengikuti ritme hidup modern. Cafe Jamu Indonesia, yang dihadirkan oleh PT Acaraki Nusantara Persada (Acaraki), mengusung konsep Jamu Experience Cafe.
Pengunjung diajak memahami filosofi jamu—tentang jampi (doa), oesodo (kesehatan), serta pengetahuan lintas generasi—sambil menikmati inovasi yang dikemas dengan selera masa kini.
Jony Yuwono, Founder & Director Acaraki, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan. “Acaraki hadir untuk memperluas cara masyarakat mengenal dan menikmati jamu,” ujarnya.
Menurut Jony, jamu dihadirkan bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan mendekatkan jamu ke keseharian masyarakat, khususnya generasi muda yang tumbuh di tengah arus globalisasi.
Inovasi menjadi kata kunci dalam transformasi jamu. Acaraki memperkenalkan Jamu Capsule, alternatif konsumsi jamu yang lebih praktis bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi.
Tiga varian, yakni Turmeric, Shades of Gold, dan All About Ginger, diluncurkan sebagai pelengkap, bukan pengganti jamu seduh. Pesan yang ingin disampaikan jelas: modernisasi tidak harus memutus akar, melainkan bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup.
Taruna Ikrar menilai, negara memiliki peran krusial dalam memastikan jamu berkembang secara bertanggung jawab. Ia mengapresiasi langkah Acaraki yang mengembangkan jamu dengan patuh pada ketentuan dan standar keamanan.Menurut Taruna, kepercayaan publik terhadap jamu Indonesia dibangun dari kepastian standar, bukan sekadar klaim.
Secara pribadi, Taruna mengaku rutin mengonsumsi jamu jahe setiap pagi. Kebiasaan ini ia anggap sebagai simbol bahwa budaya minum jamu adalah tradisi baik yang harus diwariskan. “Jamu harus diwariskan dengan bahasa dan pendekatan yang relevan dengan zaman,” ujarnya.
Dalam kerangka kebijakan, Taruna dikenal sebagai figur yang mendorong transformasi jamu secara sistemik. Ia sering disebut sebagai “arsitek” transformasi jamu nasional, melalui kolaborasi lintas sektor.
Konsep ABG (Akademik, Bisnis, Government) menjadi kerangka kerja yang ia dorong: riset dari akademisi tidak berhenti di jurnal, pelaku usaha diberi ruang berinovasi, dan negara hadir memastikan standar serta perlindungan publik.
30 Ribu Spesies Herbal, Tantangan dan Peluang Go Global
Taruna menekankan bahwa hilirisasi riset menjadi agenda penting.
Jamu harus bergerak dari pengetahuan tradisional menuju produk modern yang aman, bermutu, dan berdaya saing. Dengan kekayaan sekitar 30.000 spesies tanaman herbal, Indonesia memiliki modal alam besar untuk masuk ke pasar global. Namun, peluang tersebut hanya bisa diwujudkan jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah dan kepatuhan regulatori.
BPOM di bawah kepemimpinannya juga mendorong penguatan pengawasan obat tradisional agar jamu Indonesia siap go international. Standar global, menurut Taruna, bukan untuk mengekang, melainkan memastikan jamu Indonesia diterima dunia tanpa kehilangan identitas.
Dalam konteks ini, jamu diposisikan tidak hanya sebagai produk kesehatan, tetapi juga duta budaya dan ekonomi kreatif Indonesia.
Meski mendorong inovasi, Taruna menegaskan bahwa transformasi jamu harus dibarengi sikap tegas. BPOM akan memberantas peredaran jamu ilegal—produk tanpa izin edar atau yang mengandung bahan kimia berbahaya.
Bagi Taruna, melindungi masyarakat adalah prasyarat mutlak agar jamu bisa tumbuh sehat dan dipercaya.
Ke depan, Taruna mendorong integrasi jamu dan obat tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional.
Ia menilai Indonesia dapat belajar dari China dan India yang berhasil mengintegrasikan pengobatan tradisional ke layanan kesehatan modern, tanpa mengorbankan aspek keamanan dan efektivitas.
Di PIK 2, semua gagasan itu bertemu dalam satu ruang saat penandatanganan prasasti dan penanaman pohon kehidupan. Cafe Jamu Indonesia menjadi simbol bahwa jamu tidak sedang ditinggalkan zaman.
Ia justru sedang menemukan jalannya: dari warisan leluhur menuju masa depan kesehatan global, membawa cerita tentang budaya, sains, dan kreativitas Indonesia yang terus bergerak maju.










