BeritaPers || Gowa- Malino Keindahan jalur poros yang menghubungkan Bolaromang menuju Sinjai kini ternodai oleh persoalan klasik yang tak kunjung usai sampah. Ruas jalan yang mestinya menghadirkan panorama pegunungan dan udara sejuk khas dataran tinggi, berubah menjadi pemandangan yang mengganggu akibat tumpukan limbah rumah tangga dan plastik yang dibuang sembarangan di bahu jalan.
Hasil pantauan pada Jumat (13/2/2026) menunjukkan sejumlah titik di sepanjang tikungan dan lereng tebing mulai dipenuhi sampah. Kantong plastik berukuran besar, botol minuman, hingga sisa makanan terlihat berserakan di antara rumput liar, hanya beberapa meter dari badan jalan aspal. Kondisi ini tidak hanya merusak estetika, tetapi juga mencoreng citra jalur yang menjadi penghubung strategis antarwilayah.
Persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele. Mengingat kontur jalan Bolaromang–Sinjai berada di kawasan dataran tinggi dengan kemiringan lereng yang cukup curam, keberadaan sampah berpotensi menimbulkan dampak serius bagi lingkungan. Cairan lindi dari sampah organik yang membusuk dapat meresap ke tanah dan mencemari sumber air warga di bagian bawah lereng. Selain itu, material plastik yang sulit terurai berisiko menciptakan pencemaran jangka panjang.
Ancaman lain muncul saat musim hujan. Sampah yang menumpuk di tepi jalan dapat terseret air dan menyumbat saluran drainase alami. Jika aliran air terganggu, genangan bisa meluber ke badan jalan dan mempercepat kerusakan aspal. Dalam kondisi tertentu, situasi ini juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama di jalur yang berkelok dan minim penerangan.
Dari sisi kesehatan, tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biaknya lalat dan berbagai vektor penyakit. Bau tak sedap yang muncul pun mengurangi kenyamanan pengguna jalan serta warga yang bermukim di sekitar kawasan tersebut.
Sejumlah warga menduga perilaku oknum pengguna jalan menjadi pemicu utama munculnya titik-titik pembuangan liar. Sampah kerap dibuang saat kendaraan melintas, terutama pada malam atau dini hari ketika suasana relatif sepi. “Sangat disayangkan, padahal ini jalur penting untuk wisata dan aktivitas ekonomi. Jika dibiarkan, bisa berubah menjadi tempat pembuangan akhir liar,” ujar seorang warga yang rutin melintasi jalur itu.
Minimnya fasilitas tempat sampah di sepanjang kawasan hutan dan pegunungan memang menjadi kendala. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak dapat dijadikan pembenaran untuk mencemari lingkungan. Rendahnya kesadaran kolektif menjaga kebersihan ruang publik menjadi faktor utama menjamurnya praktik pembuangan sampah ilegal di jalur ini.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, baik dari Kabupaten Gowa maupun Sinjai, dapat memberi perhatian lebih terhadap persoalan ini. Edukasi melalui pemasangan papan larangan, pengawasan rutin, serta pembersihan berkala dinilai penting untuk mencegah penumpukan yang semakin parah. Di sisi lain, kesadaran pengguna jalan untuk membawa dan menyimpan sampah di dalam kendaraan hingga menemukan tempat pembuangan resmi juga menjadi langkah sederhana namun berdampak besar.
Menjaga kebersihan jalur Bolaromang–Sinjai bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Keindahan alam Sulawesi Selatan seharusnya tetap menjadi kebanggaan, bukan kalah oleh tumpukan plastik yang mengancam masa depan lingkungan.






















Discussion about this post