Beritapers.com,Makassar- Universitas Mega Rezky resmi mengukuhkan empat guru besar dalam sebuah momentum bersejarah bagi kampus tersebut.
Pengukuhan ini menjadi yang pertama sejak Universitas Mega Rezky berdiri dan dinilai sebagai capaian besar bagi perguruan tinggi yang masih tergolong muda itu.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Sulsel (LLDIDIK) Dr.A.Lukman., Msi, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian tersebut. Empat akademisi yang dikukuhkan sebagai guru besar yakni Prof. Dr.Drs.H. Muhammad Tahir Malik, M.Si. Prof.Dr.Dra Ali Hanafi, M.Si, Prof.Dr Asri, M.Pd, Prof. Dr.Dra.Hj.Mislia, M.Pd.
“Alhamdulillah, ini menjadi terobosan luar biasa bagi Universitas Mega Rezky. Di usia kampus yang masih muda, kami mampu melahirkan empat guru besar sekaligus,” ujarnya Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, perkembangan kampus tidak hanya terlihat dari bertambahnya jumlah profesor, tetapi juga dari penguatan kurikulum hingga peningkatan kualitas akademik secara menyeluruh.
Ia menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari tata kelola kampus yang berjalan baik. Sinergi antara penyelenggara dan pengelola kampus terus dibangun dengan mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).
“Kami terus mendorong peningkatan kualitas SDM. Kalau sumber daya manusianya unggul, maka kualitas institusinya juga akan semakin baik,” katanya.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Mega Rezky, Prof. Dr, Drs, Muhammad Tahir Malik., M.Si menyoroti tantangan politik Indonesia di era digital.
Menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus terus disosialisasikan agar demokrasi tidak dipenuhi hoaks maupun kepentingan individual.
“Kesadaran masyarakat dalam memahami nilai-nilai Pancasila sangat penting agar tidak mudah terpengaruh informasi digital yang menyesatkan,” jelasnya.
Terkait melemahnya nilai rupiah, Prof. Tahir menilai pemerintah perlu memperkuat basis ekonomi masyarakat dan memaksimalkan penggunaan rupiah dalam transaksi nasional.
“Potensi sumber daya ekonomi dalam negeri harus dikembangkan agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” ujarnya.
Ia juga menilai dominasi impor menjadi salah satu penyebab tingginya penggunaan dolar dibanding rupiah. Karena itu, potensi sumber daya alam Indonesia perlu menjadi sektor utama yang dikembangkan demi memperkuat ekonomi nasional.
Selain itu, Prof. Tahir turut menyinggung dampak konflik geopolitik dunia terhadap Indonesia, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurutnya, penutupan Selat Hormuz berdampak besar terhadap ekonomi global karena hampir 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur tersebut.
“Indonesia sebenarnya memiliki potensi sumber daya alam yang besar, khususnya minyak bumi. Namun pengelolaannya belum maksimal karena masih adanya mafia minyak dan praktik korupsi,” katanya.
Ia menegaskan, apabila sumber daya alam Indonesia dapat dikelola secara optimal dan bebas dari korupsi, maka kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan Indonesia tidak terlalu terdampak konflik global.
Di sisi lain, Ketua BPH Yayasan Islam Mega Rezky Dr.,H. Alimuddin SH.,MH menyebut keberadaan guru besar menjadi salah satu indikator kualitas perguruan tinggi. Karena itu, pihak yayasan berkomitmen terus mendorong penambahan jumlah profesor setiap tahun.
“Kami akan terus memfasilitasi para dosen agar bisa mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar,” ujarnya.
Pihak yayasan juga memastikan pendampingan terhadap berbagai kebutuhan administrasi dan akademik agar Universitas Mega Rezky terus berkembang dan unggul melalui lahirnya lebih banyak guru besar di masa mendatang.






















Discussion about this post