BERITAPERS || Pacitan, 24 Mei 2025 – Kemajuan pesat transportasi di Kabupaten Pacitan membawa dampak besar terhadap keberlangsungan angkutan umum konvensional. Seiring maraknya penggunaan sepeda motor, mobil pribadi, hingga sepeda listrik, nasib armada trayek Pacitan–Punung kian terpinggirkan.
Moda transportasi yang dulu akrab disebut “andongan” oleh masyarakat setempat kini hampir tak terdengar lagi gaungnya. Dari 58 armada yang dahulu melayani rute Pacitan–Punung, kini hanya tersisa 9 unit yang masih bertahan di jalanan.
Sukardi (67), akrab disapa Kampluk, adalah salah satu sopir senior yang menjadi saksi hidup surutnya trayek ini. Ia memulai karier sebagai kernet pada 1989, lalu menjadi sopir pada 1995, dan sejak 2015 mengoperasikan armadanya sendiri. “Penumpang sekarang sangat sedikit, sering kosong. Banyak sopir yang akhirnya berhenti karena tidak kuat menanggung biaya operasional,” ungkap Sukardi.
Sisa armada yang masih bertahan di trayek ini kini dioperasikan oleh beberapa nama yang sudah akrab di kalangan warga: Bapak Sukardi, Bapak Rudin, Bapak Jarwo, Bapak Dalari, Bapak Didik, Bapak Warto, Bapak Siswanto, Bapak Sutris, dan Bapak Asrori.
Fenomena ini menjadi catatan penting bahwa modernisasi transportasi, meski membawa kemudahan, juga menyisakan dampak sosial dan ekonomi bagi para pelaku transportasi tradisional yang telah lama mengabdi pada masyarakat.










