BERITAPERS – Budayawan Muda Sulawesi Selatan Abdi Mahesa angkat bicara terkait eskalasi konfik yang melibatkan sejumlah kelompok mahasiswa daerah di makassar beberapa hari terakhir.
Ia menilai bahwa situasi tersebut sebaiknya diatasi dengan pendekatan sosio-kultural dan refleksi historis untuk mencapai stabilitas keamanan yang baik dan tertata.
“Kita tidak diajarkan dalam kebiasaan kita untuk mendiksriminasi dan mengekslusifkan kelompok atau suku lain apalagi memiliki hubungan historis yang panjang”.
Lebih jauh Abdi Mahesa menyatakan bahwa spirit ‘Sombaopu’ bisa menjadi sebuah refleksi rekonsiliasi konflik. “kita memiliki hubungan emosional yang dibangun lewat ikatan kekerebatan yang dibangun oleh para pendahulu kita.
Sejarah membuktikan bahwa Datu Luwu yang bernama La Pattiware Daeng Parabbung Sultan Muhammad Wali Muzhahiruddin (1587-1615) memiliki permaisuri yang bernama I Cinni’ Daeng Situju Karaengta ri Balla’ Bugisi’ yang merupakan anak dari Raja Gowa I Tajibarani Daeng Marumpa Karaeng Tunibatta. Dari pernikahan tersebut melahirkan 3 orang anak yang bernama La Pattiaraja Opu Matinroe ri Somba Opu, Patipasaung dan We Tenri Siri Opu Tadang Mpali Somba Bainea”.
Lebih lanjut Abdi Mahesa menguraikan bahwa anak dari Datu Luwu yang bernama We Tenri Siri Opu Tadang Mpali menjadi permaisuri Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin yang merupakan Raja Gowa yang menerima Islam pada tahun 1605, mereka adalah dua kerajaan yang solid dengan latar belakang suku yang berbeda namun itu tidak membatasi kedua kerajaan tersebut untuk membangun rumpun kekerabatan tanpa saling menjatuhkan.
Antara Mertua dan menantu tersebut masing-masing merupakan Raja dari kedua kerajaan besar dan mahsyur di jazirah Sulawesi Selatan merupakan Datu dan Raja pertama yang menerima islam di masing-masing kerajaannya. Keislaman kedua raja tersebut tak lain merupakan seruan kebaikan dari salahsatu diantara kedua raja tersebut yang saling mengajak ke jalan kebaikan”.
Abdi Mahesa menyatakan “setelah mereka mendapatkan jalan kebaikan secara spritual tersebut, Raja-raja tersebut mengukuhkan hubungan politik melalui Perkawinan bagi generasi selanjutnya agar tidak ada lagi perang, permusuhan antar kerajaan karena keturunan mereka telah memiliki ikatan emosional yang diinisiasi melalui politik perkawinan” ujar Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut.
Menutup wawancara kami, Abdi Mahesa mengharap agar eskalasi ketegangan konflik tersebut dapat diselesaikan dengan mengedepankan nilai-nilai luhur sipakatau-sipakainge dan sipakalebbi sebagai pondasi dalam mengaktualisasikan spirit Siri Na Pecce sebagai asas dalam mediasi yang inklusif.










