BeritaPers. Pendidikan || Di tengah kemeriahan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-80, sebuah kabar sejuk datang dari dataran tinggi Kabupaten Gowa. Seorang pendidik dari MIS Ma’arif Sapiribborong, Desa Balassuka, Kecamatan Tombolopao, atas nama ibu Muliati berhasil meraih penghargaan sebagai Guru Berdedikasi Tinggi di daerah pedalaman. Penghargaan ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan pengakuan atas perjuangan melawan sunyi dan keterbatasan di garis depan pendidikan.
Mengajar Melampaui Tugas
Mengajar di pelosok seperti Sapiribborong bukanlah perkara mudah. Medan yang menantang dan akses yang terbatas menuntut lebih dari sekadar kecerdasan intelektual; ia butuh ketangguhan mental dan ketulusan hati. Guru yang mendapatkan penghargaan ini telah membuktikan bahwa jarak geografis bukanlah penghalang bagi transfer ilmu pengetahuan dan karakter.
Penghargaan pada HAB Kemenag ke-80 ini menjadi simbol bahwa negara hadir dan melihat mereka yang bekerja dalam senyap. Saat banyak orang mengejar karier di hiruk-pikuk kota besar, guru di MIS Ma’arif Sapiribborong ini justru memilih untuk menetap, menyalakan lilin harapan bagi anak-anak di kaki gunung, agar mereka memiliki mimpi yang setinggi puncak Bawakaraeng.
Lebih dari Sekadar Kurikulum
Di sekolah-sekolah pedalaman, peran guru seringkali berganda. Mereka adalah orang tua, motivator, sekaligus jembatan bagi masyarakat desa menuju dunia luar. Dedikasi yang ditunjukkan di Desa Balassuka mencerminkan esensi sejati dari semboyan “Ikhlas Beramal” milik Kementerian Agama.
Pencapaian ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua. Bahwa pendidikan berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kemegahan gedung sekolah atau kecepatan koneksi internet, tetapi oleh kehadiran sosok guru yang memiliki “ruh” pengabdian.

Harapan ke Depan
Keberhasilan guru dari Tombolopao ini harus menjadi pemantik semangat bagi pendidik lainnya di Kabupaten Gowa. Namun, di balik kebanggaan ini, terselip pesan bagi pemerintah dan stakeholder terkait: dukungan terhadap sarana dan prasarana di wilayah pedalaman harus terus ditingkatkan sebagai bentuk apresiasi nyata atas dedikasi mereka.
Kita patut berbangga. Dari sebuah dusun kecil di Desa Balassuka, lahir seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang namanya kini menggema di panggung nasional HAB Kemenag. Semoga semangat ini terus menular, memastikan bahwa tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dalam kegelapan ketidaktahuan, meski mereka berada di pelosok terdalam sekalipun.
Selamat kepada Guru MIS Ma’arif Sapiribborong ( Ibu MuliatiI)atas penghargaannya. Teruslah menjadi pelita bagi anak negeri!
Pewarta : Ismarianto, S.Pd






















Discussion about this post