BeritaPers. Tual || Momen bersejarah baru saja terukir di Lapas Kelas IIB Tual, Kabupaten Maluku Tenggara. Pada hari Rabu, 21 Januari 2026, untuk pertama kalinya sejak lembaga ini berdiri sekitar 40 tahun yang lalu, gema ayat suci Al-Quran terdengar syahdu dalam acara Khataman Quran massal yang dirangkaikan dengan peringatan Isra Miraj.
Langkah ini menjadi tonggak awal perubahan besar bagi warga binaan. Sebelumnya, aspek pembinaan kerohanian Islam di tempat ini terasa sangat sunyi. Banyak saudara kita di dalam sana yang menjalani masa hukuman dengan keterbatasan pemahaman agama yang cukup memprihatinkan.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas warga binaan muslim belum mampu membaca Al-Quran, bahkan untuk sekadar mengenal huruf melalui metode Iqro pun mereka kesulitan. Hal ini menjadi tantangan besar sekaligus ladang amal bagi siapa saja yang ingin peduli.
Kondisi tersebut berdampak pula pada ibadah wajib mereka. Masih banyak warga binaan yang belum memahami tata cara sholat dengan benar, buta akan bacaan sholat, hingga tidak mengetahui jumlah rakaat dalam setiap waktu sholat yang harus ditegakkan.
Bahkan hal-hal mendasar seperti tata cara berwudhu yang sah dan prosedur istinjak (bersuci) sesuai syariat pun masih banyak yang belum mengerti. Tanpa bimbingan, mereka seolah terasing dalam menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah SWT.
Kesedihan mereka semakin bertambah karena faktor sosial. Banyak di antara warga binaan yang merasa dilupakan oleh keluarga sendiri. Dukungan moril dari dunia luar sangat minim, membuat mereka merasa sendirian dalam menghadapi masa-masa sulit di dalam Lapas.
Kondisi ini diperparah dengan jarangnya kehadiran para pendakwah atau guru agama yang datang berkunjung. Padahal, penjara seharusnya menjadi tempat bagi mereka untuk bertaubat dan memperbaiki diri agar bisa kembali ke masyarakat dengan pribadi yang baru.
Ada sebuah pemandangan yang menjadi refleksi bersama, di mana perhatian terhadap pasien di rumah sakit pun setali tiga uang. Pihak sebelah begitu rutin mengunjungi pasien hingga 3-4 kali sehari, sementara saudara muslim kita seringkali hanya dikunjungi sebulan sekali oleh pendakwah.
Melihat kenyataan pahit ini, atas izin Allah SWT, kami tergerak untuk turun tangan. Bersama beberapa orang rekan yang memiliki visi yang sama, kami mencoba memfasilitasi proses belajar mengajar agama bagi para warga binaan yang selama ini haus akan ilmu.
Selain berbagi ilmu, kami juga berusaha memberikan dukungan fasilitas fisik untuk menunjang ibadah mereka.
Kami menyalurkan bantuan berupa baju sholat, kopiah atau songkok, meja lipat untuk mengaji, sajadah atau alas lantai, serta sedikit hidangan makanan dan minuman.
Ini adalah bentuk nyata bahwa ladang dakwah tidak hanya ada di masjid-masjid besar atau majelis taklim yang nyaman.
Lapas dan rumah sakit adalah tempat-tempat yang jarang dilirik, padahal di sanalah hidayah seringkali mengetuk pintu hati seseorang dengan sangat kencang.
Alhamdulillah, acara khataman dan peringatan Isra Miraj kemarin menjadi bukti bahwa perubahan itu mungkin. Semoga ke depannya kita semua bisa berbuat lebih baik lagi dan lebih konsisten dalam merangkul saudara-saudara kita, insya Allah.










