Saksi kedua, drg. Adzani Umar, menyatakan dirinya telah mencoba menghubungi korban sejak pukul 06.30 Wita. Ia menyadari kejanggalan ketika korban tak hadir di tempat belajar di RSGM Unhas seperti biasanya. Kekhawatiran itu memuncak hingga memutuskan untuk datang langsung ke rumah korban.
Saksi ketiga, drg. Dian Bunga Lestari, membenarkan kronologis tersebut. Ia mengaku turut serta bersama Adzani mengecek rumah korban. Bahkan sempat meminta bantuan warga sekitar sebelum akhirnya mengetahui bahwa pintu telah didobrak dan korban ditemukan telah tiada.
Dari hasil pemeriksaan awal tim Dokpol dan Inafis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Keluarga korban pun menolak dilakukan autopsi dan menandatangani surat penolakan. Diketahui korban memiliki riwayat hipertensi, kolesterol, dan kerap mengeluh nyeri di bagian dada.
Jenazah dr. Ismawan rencananya akan dibawa ke kampung halamannya di Kabupaten Luwu untuk dimakamkan. Proses penyerahan jenazah kepada pihak keluarga berjalan lancar setelah visum awal selesai dilakukan.
Kematian mendadak sang dokter menjadi duka mendalam di kalangan koleganya. Mereka mengenang sosok Ismawan sebagai pribadi yang tenang, cerdas, dan berdedikasi tinggi terhadap profesi yang dijalaninya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah hal utama, bahkan bagi para tenaga medis sekalipun. Kadang, tubuh berbicara lebih dulu sebelum kita sempat menyadari, dan sepi bisa menyimpan kepergian yang tak terduga.(*)










