BeritaPers. Opini || Selamat datang di hari di mana semua orang mendadak jadi penganut asketisme garis keras. Kita sering meromantisasi hari pertama seolah-olah ini adalah perjalanan spiritual yang tenang, padahal ini adalah sabotase terhadap kebiasaan makan kita yang serakah. Ada paradoks menarik ketika orang-orang sibuk memposting “Marhaban ya Ramadhan” dengan latar estetik, sementara asam lambung mereka sedang melakukan protes anarkis di dalam sana.
Hari pertama adalah panggung teater massal. Kita berakting seolah-olah menahan lapar itu mudah, padahal fokus kita sebenarnya cuma satu: jam dinding. Fenomena ini membuktikan bahwa disiplin manusia seringkali bukan lahir dari kesadaran murni, melainkan dari tekanan kolektif. Kita takut berdosa, tapi lebih takut lagi terlihat tidak kuat puasa di depan rekan kerja.
Lucunya, pendidikan karakter yang digembar-gemborkan seringkali kalah oleh urusan perut. Kita diajarkan sabar, tapi lihatlah antrean takjil dua jam sebelum maghrib; itu lebih mirip simulasi kerusuhan kecil daripada barisan orang bertaqwa. Apakah kita sedang berpuasa untuk Tuhan, atau sekadar ikut serta dalam maraton kelaparan nasional agar dianggap religius?
Ini adalah dekonstruksi rutinitas. Kita dipaksa berhenti dari siklus konsumsi yang gila-gilaan. Tapi mari jujur, seringkali kita hanya memindahkan jam makan, bukan mengurangi porsi. Hari pertama biasanya diakhiri dengan “balas dendam” di meja makan yang justru mengkhianati esensi pengendalian diri itu sendiri.
Jadi, mulailah hari ini dengan sedikit rendah hati. Jangan terlalu sombong dengan niatmu jika saat dzuhur tiba kau sudah mulai menghitung sisa butiran nasi di piring anak kecil. Ramadhan bukan kompetisi pamer penderitaan, ini tentang menyadari betapa rapuhnya kita tanpa asupan kafein dan glukosa.






















Discussion about this post