“Kami ingin menjadikan Tammu Taung sebagai ruang pembelajaran, tidak hanya soal sejarah keluarga, tetapi juga tentang pentingnya spiritualitas, kesederhanaan, dan solidaritas sosial,” tutur Reza.
Acara berlangsung sederhana namun sarat makna. Warga setempat, tokoh adat, pemuda, hingga anak-anak terlibat aktif dalam kegiatan ini. Nuansa kekeluargaan dan semangat gotong royong begitu terasa sepanjang acara berlangsung.
Tidak tampak unsur politik maupun aktivitas komersial dalam rangkaian acara. Hal ini menegaskan bahwa Tammu Taung benar-benar digelar sebagai bentuk penghormatan budaya murni, bebas dari kepentingan lain.
Para tokoh adat Karaeng Roya juga turut hadir dan memberikan wejangan mengenai sejarah berdirinya tradisi tersebut. Mereka menyampaikan bahwa Tammu Taung bukan hanya ritual, tetapi juga peneguhan identitas dan komitmen moral dalam menjaga warisan leluhur.
Menurut beberapa sesepuh rumpung Karaeng Roya, kegiatan ini telah menjadi bagian penting dari perjalanan sosial masyarakat Galesong. Meski zaman berubah, nilai-nilai Tammu Taung tetap relevan dan menjadi pengikat solidaritas keluarga besar dan komunitas.
Keberhasilan acara ini juga tak lepas dari antusiasme generasi muda yang terlibat sebagai panitia, pelaksana teknis, hingga pengisi acara. Partisipasi aktif mereka menunjukkan bahwa estafet budaya tetap berjalan dengan semangat dan harapan baru.
Dengan dukungan dari pemerintah desa, kekuatan solidaritas keluarga, serta kesadaran budaya masyarakat, Tammu Taung ke-271 menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal masih hidup dan terus berdenyut di tengah tantangan zaman modern.
Sebagai warisan tak ternilai, Tammu Taung tidak hanya memperkuat akar budaya, tetapi juga menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan rumpung Karaeng Roya serta masyarakat Biringkassi secara luas.(KML)






















Discussion about this post