BeritaPers – Makassar. Langit Kota Makassar terasa sendu, dengan rintik hujan yang tak henti membasahi bumi dalam beberapa hari terakhir. Namun, cuaca yang dingin dan jalanan yang basah pada hari ini, Jumat, 5 Desember 2025, sama sekali tidak mampu menyurutkan niat ratusan umat Islam untuk melaksanakan kewajiban salat Jumat di Masjid Al-Ikhlas, Jl. Talasalapang II, Kompleks Depag Makassar.
Jemaah berbondong-bondong memasuki masjid, disambut oleh suasana yang sangat nyaman dan sejuk. Kelembapan udara dari hujan justru menambah khusyuk suasana di dalam masjid. Kebersihan yang terjaga dan pencahayaan yang lembut seakan mempersiapkan jiwa untuk menerima siraman rohani yang akan segera disampaikan.
Menarik perhatian jamaah hari itu adalah sosok muadzin yang mengumandangkan azan pertama dan kedua. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 15 tahunan dengan suara merdu dan lantang berhasil membawakan lafadz adzan dengan khidmat. Kehadiran muadzin belia ini menjadi simbol regenerasi yang disambut hangat oleh jamaah, bahkan sempat mendapat sorotan apresiatif dari Khatib.
Sebelum Dr. Muh Anwar. HM naik ke mimbar, agenda penting rutin dilaksanakan. Pengurus Masjid Al-Ikhlas melalui Drs. Muhiddin membacakan laporan pertanggungjawaban keuangan masjid secara terbuka. Laporan ini merupakan wujud nyata akuntabilitas pengurus dalam mengelola amanah dana umat, mencakup rincian pemasukan dan pengeluaran kas masjid selama periode terakhir.
Setelah sesi laporan dan adzan kedua, Dr. Muh Anwar. HM naik ke mimbar, menjalankan tugas mulia sebagai Khatib sekaligus Imam. Khutbah Jumat yang ia bawakan memiliki judul yang sederhana namun menusuk relung hati setiap yang hadir: “Berterima Kasihlah kepada Ibu.”
Dr. Anwar memulai khutbahnya dengan nada yang tenang namun penuh penekanan, menceritakan pengorbanan tak terhingga seorang ibu yang telah berjuang dalam kesendirian dan mengorbankan seluruh mimpi demi kebahagiaan anaknya. Ia mengingatkan bahwa keridaan Allah terletak pada keridaan orang tua, sementara durhaka pada ibu adalah dosa besar yang membinasakan.
Di tengah-tengah khutbah, suasana hening berubah haru. Ketika Dr. Anwar menanyakan tentang perlakuan kita pada ibu yang telah renta, air mata beberapa jamaah terlihat menetes. Khutbah tersebut benar-benar berhasil menggugah jiwa dan batin, memicu rasa penyesalan bagi mereka yang mungkin telah lalai dalam berbakti kepada sosok paling mulia tersebut.
Kegiatan Jumat hari itu ditutup dengan harmoni yang indah: emosi spiritual yang kuat setelah mendengar khutbah yang menyentuh hati, semangat regenerasi yang ditunjukkan oleh muadzin muda, dan transparansi manajemen yang ditunjukkan oleh laporan keuangan. Hal ini menegaskan peran sentral Masjid Al-Ikhlas sebagai pusat ketenangan jiwa dan akuntabilitas umat di tengah Kota Makassar yang sejuk oleh hujan.










