BERITAPERS || Suppa, PINRANG – Ribuan masyarakat tumpah ruah di Desa Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Senin (29/9/2025), untuk menghadiri Maulid Akbar yang dirangkaikan dengan Pesta Budaya Saeyyang Pattu’duq. Acara yang digagas oleh masyarakat Desa Lero ini berlangsung semarak dengan nuansa religius dan kearifan budaya lokal yang begitu kental.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur penting, mulai dari Wakil Bupati Pinrang H. Sudirman Bungi, Forkompinda, Forkopincam, para kepala sekolah se-Kecamatan Suppa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, hingga tamu undangan dari kabupaten tetangga. Tidak ketinggalan, Kepala MA Biharul Ulum Ma’arif Suppa turut hadir dan memberikan apresiasi tinggi atas penyelenggaraan acara yang penuh makna tersebut.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Pinrang H. Sudirman Bungi, S.Ip., M.Si menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bukti sinergi antara agama dan budaya yang berjalan harmonis di tengah masyarakat.
“Maulid Akbar ini bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum untuk mempererat persaudaraan. Tradisi Saeyyang Pattu’duq yang kita saksikan hari ini menjadi simbol kebersamaan, penghormatan kepada ulama, serta warisan budaya yang harus dijaga,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala MA Biharul Ulum Ma’arif Suppa, Arifuddin ,S.Pd.,M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini memberikan dampak positif, khususnya bagi generasi muda.
“Kami melihat kegiatan ini sebagai syiar Islam yang berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Generasi muda harus memahami bahwa menjaga tradisi lokal sama pentingnya dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan. Dengan begitu, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, beriman, sekaligus mencintai budaya leluhur,” ungkapnya kepada wartawan BeritaPers usai acara.
Selain itu, ia menambahkan bahwa keterlibatan sekolah dan lembaga pendidikan dalam kegiatan seperti ini penting untuk memberikan teladan kepada para pelajar. Menurutnya, Maulid Akbar dan Saeyyang Pattu’duq dapat menjadi sarana edukasi nonformal yang memperkaya wawasan kebudayaan serta mempertebal keimanan para siswa.
Puncak acara dimeriahkan dengan penampilan budaya khas Bugis, yakni Saeyyang Pattu’duq atau kuda pattudu. Tradisi ini memperlihatkan seekor kuda yang dihias indah dengan penunggang yang biasanya adalah anak-anak yang telah khatam Al-Qur’an. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan dan kegembiraan masyarakat terhadap capaian religius generasi muda.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Jalanan Desa Lero dipadati oleh warga yang ingin menyaksikan langsung jalannya prosesi. Kehadiran para tokoh agama, pejabat daerah, hingga pelajar menambah khidmat dan semarak suasana.
Dengan perpaduan nilai spiritual dan budaya, acara Maulid Akbar di Desa Lero tidak hanya menjadi ajang syiar Islam, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi. Harapan masyarakat, kegiatan ini bisa terus dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya dan bahkan menjadi ikon budaya keagamaan Kabupaten Pinrang. (Mlp)










