Dr. Ibrahim Syah menambahkan bahwa implementasi MoA dengan Prodi MPI UINAM merupakan langkah strategis untuk memperkuat kualitas lulusan kedua belah pihak. Bagi beliau, sinergi ini membuktikan bahwa batas-batas disiplin ilmu kini semakin cair demi menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin kompleks.
Sesi materi pertama menghadirkan Muh Anwar HM, seorang akademisi sekaligus praktisi media yang menjabat sebagai Pimred Berita Pers Sulsel. Ia membedah proses kreatif penemuan ide berita yang seringkali dianggap sulit oleh pemula, padahal ide berserakan di sekitar lingkungan kampus setiap harinya.
Muh Anwar HM menekankan bahwa kunci utama jurnalistik adalah keberanian untuk memulai tulisan tanpa takut salah. Dengan teknik manajemen konten yang tepat, sebuah isu sederhana dapat diolah menjadi informasi berkualitas yang memiliki nilai berita tinggi dan menarik minat pembaca.
Narasumber kedua, Bapak Aimal Situru, S.Pd., M.Si, yang merupakan Komisaris Utama PT. Media Intar Indonesia, membawa perspektif industri media online. Ia memaparkan tantangan jurnalisme di era digital, di mana kecepatan seringkali berbenturan dengan ketepatan informasi yang harus disajikan kepada publik.
Sebagai Ketua JOIN Takalar, Aimal Situru juga mengingatkan pentingnya etika jurnalistik agar mahasiswa tidak terjebak dalam penyebaran berita bohong atau hoaks. Ia mendorong mahasiswa untuk menjadi “agen verifikasi” di tengah banjir informasi yang terjadi di media sosial saat ini.






















Discussion about this post