BeritaPers. Pendidikan || Pendidikan inklusi menuntut sekolah untuk siap menerima siswa dengan berbagai latar belakang, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Merespons dinamika ini, Tim Peneliti dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Alauddin Makassar melakukan studi mendalam terkait strategi guru dalam menangani siswa ADHD di SDIT Darul Fikri Makassar.
Penelitian kolaboratif dosen dan mahasiswa ini dipimpin oleh Dr. Hj. Andi Halimah, M.Pd., bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan sekolah terhadap siswa yang mengalami hambatan fokus dan hiperaktivitas.
Dinamika di Ruang Kelas: Studi Kasus Siswa “A”
Dalam laporannya, tim peneliti menyoroti studi kasus pada siswa kelas IV berinisial “A” (10 tahun). Berdasarkan observasi, “A” menunjukkan gejala khas ADHD seperti kesulitan duduk diam, sering memotong pembicaraan, impulsif, dan mudah terdistraksi oleh rangsangan visual maupun auditori di sekitarnya.
“Perilaku siswa ini sering kali memecah konsentrasi kelas. Ia kerap berlarian, mengganggu teman, dan kesulitan menuntaskan tugas jika tidak diawasi secara ketat,” ungkap tim peneliti dalam hasil observasinya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru kelas, mengingat rasio jumlah siswa yang cukup besar membuat perhatian guru terbagi. Tanpa adanya Guru Pendamping Khusus (GPK) yang berdedikasi penuh di kelas tersebut, beban guru wali kelas menjadi sangat berat.
Strategi “Seat Management” dan Pendekatan Persuasif
Temuan riset menunjukkan bahwa SDIT Darul Fikri telah menerapkan beberapa strategi modifikasi lingkungan dan perilaku untuk mengakomodasi kebutuhan siswa tersebut.
Salah satu strategi utama yang dinilai cukup efektif oleh tim peneliti adalah pengaturan tempat duduk (seat management). Guru menempatkan siswa “A” di barisan paling depan, dekat dengan meja guru. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir distraksi dan memudahkan guru memberikan instruksi ulang (prompting). “Selain posisi duduk, guru menerapkan pendekatan verbal dan non-verbal. Teguran halus, tatapan mata, hingga sentuhan ringan di bahu digunakan untuk mengembalikan fokus siswa saat mulai melamun atau bergerak berlebihan,” tulis laporan tersebut.
Meski demikian, tim peneliti UIN Alauddin mencatat bahwa metode yang ada masih bersifat reaktif. Guru sering kali merasa kewalahan menangani ledakan emosi atau hiperaktivitas siswa di tengah proses belajar mengajar yang padat.
Rekomendasi Akademisi: Pentingnya PPI dan Kolaborasi
Menutup risetnya, Tim UIN Alauddin Makassar memberikan rekomendasi krusial bagi penyelenggara pendidikan inklusi. Penanganan siswa ADHD tidak bisa hanya mengandalkan kesabaran guru semata, tetapi membutuhkan sistem yang terstruktur.
Rekomendasi utama tim peneliti meliputi:
Penerapan PPI (Program Pembelajaran Individual): Sekolah perlu menyusun kurikulum yang dimodifikasi khusus untuk siswa ADHD, bukan menyamakan target dengan siswa reguler.
Metode Reward and Punishment Edukatif: Penerapan sistem bintang atau poin untuk perilaku positif dinilai efektif meningkatkan motivasi siswa ADHD.
Kolaborasi Orang Tua: Strategi di sekolah akan sia-sia jika tidak dilanjutkan di rumah. Pola asuh dan diet (pengurangan gula/gadget) di rumah sangat memengaruhi perilaku anak di sekolah.
Pengadaan Shadow Teacher: Idealnya, siswa dengan ADHD berat didampingi oleh guru khusus agar pembelajaran kelas utama tidak terganggu.
“Pendidikan inklusi adalah perjalanan panjang. Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi antara sekolah, kampus, dan orang tua, siswa dengan ADHD dapat berkembang optimal tanpa merasa terpinggirkan,” pungkas tim peneliti.






















Discussion about this post