BeritaPers. Gowa – Pemilihan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan atau pengisi kalender organisasi. Ia adalah momentum strategis, sebuah titik balik yang akan menentukan ke mana arah dan martabat jurusan akan dibawa. Proses ini merupakan gerbang lahirnya kepemimpinan baru yang memegang kunci untuk menggerakkan roda organisasi mahasiswa menuju visi yang lebih konkret dan terukur. Oleh karena itu, setiap mahasiswa hendaknya memaknai pemilihan ini sebagai kompas untuk membaca peta masa depan yang akan mereka lalui bersama.
Melalui panggung penyampaian visi dan misi, para bakal calon ketua membedah isi pikiran dan rencana strategis mereka. Di sinilah mahasiswa dapat menilai sejauh mana kesiapan seorang kandidat untuk menjadi “nahkoda” yang mampu memimpin, mengarahkan, dan merajut keberagaman aspirasi. Analisis kritis menjadi harga mati; arah kepemimpinan yang diputuskan hari ini adalah penentu apakah organisasi akan berlayar menuju kemajuan atau justru terombang-ambing tanpa tujuan akibat nakhoda yang kehilangan orientasi.
Momentum ini juga menjadi potret hidup demokrasi kampus yang sesungguhnya. Mahasiswa bukan sekadar penonton atau objek pemungutan suara, melainkan subjek utama yang memegang kedaulatan. Setiap suara adalah mandat yang membawa beban tanggung jawab. Maka, pilihan idealnya lahir dari rahim rasionalitas berdasarkan kualitas gagasan dan integritas pribadi bukan sekadar dorongan kedekatan emosional atau ikatan pertemanan yang bersifat subjektif.

Amat disayangkan jika hak pilih yang sangat berharga justru digadaikan demi relasi sosial semata. Tanpa pertimbangan rasional terhadap kemampuan calon, demokrasi kampus akan kehilangan ruhnya dan organisasi berisiko berdiri di atas fondasi yang rapuh. Jika pola primordialisme mengalahkan profesionalisme, maka keberlangsungan organisasi hanya akan menjadi formalitas tanpa dampak nyata bagi kemajuan mahasiswa.
Meski secara teknis pemilihan Ketua HMJ dilakukan melalui mekanisme perwakilan oleh ketua dan sekretaris tingkat, ruang partisipasi tidak boleh menyempit. Para representasi kelas ini memikul tanggung jawab moral untuk membawa aspirasi kolektif dari musyawarah di tingkat akar rumput. Suara yang diberikan di bilik suara haruslah cerminan dari keinginan bersama, sebuah mandat yang telah matang didiskusikan di ruang-ruang kelas, bukan sekadar kehendak pribadi sang pemegang suara.
Kesehatan demokrasi kampus tercermin dari keterbukaan ruang diskusi dan kebebasan berpendapat yang harmonis. Ketika proses pemilihan berjalan secara transparan dan inklusif, akan muncul rasa kepemilikan (sense of belonging) dari setiap mahasiswa terhadap hasil yang dicapai. Mereka tidak hanya melihat hasilnya, tetapi merasa menjadi bagian dari proses perubahan tersebut.
Pelaksanaan pemilihan Ketua HMJ pada 19 Desember 2025 di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar telah membuktikan bahwa mekanisme prosedural dapat berjalan berdampingan dengan prinsip keterbukaan. Peran panitia, kehadiran saksi, serta transparansi dalam penghitungan suara merupakan upaya kolektif untuk menjaga legitimasi dan kehormatan hasil demokrasi.
Pada akhirnya, esensi dari pemilihan ini bukan sekadar tentang siapa yang berdiri di podium kemenangan, melainkan tentang bagaimana proses tersebut mampu melahirkan pemimpin yang visioner. Nahkoda baru yang terpilih diharapkan mampu membawa HMJ menuju era baru yang lebih progresif dan inklusif. Masa depan organisasi tidak ditentukan oleh tingkat popularitas, melainkan oleh keteguhan integritas dan kedewasaan kita dalam berdemokrasi.




















Discussion about this post