BERITAPERS || GAZA — Serangan beruntun Israel di Jalur Gaza kembali menewaskan puluhan warga Palestina. Dalam tiga hari terakhir, tercatat 56 warga Palestina gugur, terdiri dari 33 syahid tiga hari lalu dan 23 syahid pada hari berikutnya. Aksi agresi ini dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan yang disepakati pada 10 Oktober lalu.
Menurut pernyataan faksi-faksi perlawanan, pihak mereka tetap berkomitmen terhadap isi kesepakatan tersebut. Namun, Israel disebut terus melakukan provokasi dengan menciptakan dalih dan tuduhan yang tidak berdasar untuk melanjutkan operasi militer berupa pengeboman, penembakan, serta penghancuran pemukiman.
Selain itu, Israel juga disebut tidak memenuhi kewajiban dalam kesepakatan, seperti pembukaan penuh perlintasan, memasukkan alat berat untuk mengangkat puing-puing, dan penarikan pasukan dari area yang telah disetujui.
Faksi perlawanan menegaskan bahwa rangkaian pelanggaran tersebut menunjukkan bahwa Israel tidak memiliki komitmen terhadap perjanjian internasional. Karena itu, mereka meminta para mediator dan delapan negara pendukung kesepakatan untuk mengambil langkah tegas menekan Israel agar mematuhi komitmen yang telah ditandatangani.
Selain dorongan terhadap negara-negara mediator, seruan juga disampaikan kepada komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel melalui berbagai langkah, di antaranya:
Pertama, mengaktifkan peran parlemen di berbagai negara untuk menekan pemerintah masing-masing agar mengambil sikap lebih tegas.
Kedua, mendorong kampanye rakyat, demonstrasi, dan aksi protes internasional. Ketiga, memperkuat dukungan terhadap ketahanan warga Gaza yang telah dua tahun bertahan di tengah agresi tanpa henti.
Hingga kini, situasi di Gaza masih terus memburuk. Belum ada indikasi bahwa Israel akan menghentikan operasi militernya, sementara jumlah korban jiwa diprediksi akan terus bertambah jika tidak ada intervensi internasional yang efektif.






















Discussion about this post