BeritaPers. || Malam itu, Kamis 17 September 2026, jarum jam tepat menunjukkan pukul 21.00 WITA. Kota Palu yang biasanya diselimuti udara panas mendadak sunyi, seolah menahan napas. Di atas pembaringan, napas terakhir Ayah tercinta, H. Muhammadong, terhembus dengan perlahan, membawa pergi seluruh derita yang menempel pada raganya selama lima bulan terakhir.
Lima bulan bukan waktu yang singkat. Kami menyaksikan bagaimana Ayah bertarung tanpa suara, menahan sakit yang tak mampu dilukiskan dengan kata-kata. Namun malam itu, pertarungan panjang itu berakhir. Ayah kami berpulang dengan tenang, tepat saat gerbang malam Jumat terbuka, sebuah malam mulia yang menyambut kepulangannya kembali ke pangkuan Sang Khalik.
Kota Palu yang sudah sekian lama tak pernah disapa hujan, malam itu tiba-tiba meneteskan air dari langit. Hujan itu turun sangat singkat, hanya beberapa menit saja. Seolah-olah langit tak sanggup menahan haru, bertakziah dan menyiram bumi demi menyambut seorang hamba-Nya yang taat kembali ke rumah yang abadi. Gerimis singkat itu terasa seperti usapan lembut langit pada wajah kami yang basah oleh air mata, berbisik bahwa Ayah kami telah bebas dari segala rasa sakitnya.
Namun rasa pedih ini menancap makin dalam ketika mengenang linimasa takdir yang begitu indah sekaligus menyayat hati. September seakan menjadi bulan perpisahan, sekaligus reunian abadi. Tepat delapan tahun yang lalu, pada 28 September 2018, Istri tercinta, Ibu kami telah lebih dulu melangkah meninggalkan kami. Dan kini, di bulan yang sama, Ayah menyusul langkah Ibu.

Di tempat yang tak lagi tersentuh duka dan derita, Ayah kami kini telah melangkah menembus batas waktu. Sepi yang selama ini mengendap di relung hati Ayah sejak kepergian Ibu, akhirnya sirna. Dua jiwa yang saling mengasihi itu kini telah bertaut kembali, bersatu dengan cinta sejati mereka di keabadian.
Kini, derak langkah kaki Ayah di rumah tak akan pernah terdengar lagi. Obat yang selama lima bulan terakhir menjadi saksi bisu perjuangan Ayah, kini membisu menyimpan sisa-sisa kenangan akan jemari tua yang gemetar menahan perih. Di sudut tempat itu, bayangan Ayah yang kerap terbangun di tengah malam merintih pelan masih terasa begitu lekat. Kami berdiri di samping pembaringan yang kini kosong, meraba bekas tempat tidur Ayah dengan dada yang sesak oleh rasa kehilangan yang tak bertepi.
Namun di balik kepedihan yang merajam jiwa, ada segaris penawar yang membisikkan kedamaian. Ayah kini telah menyatu dengan keabadian, di mana rasa sakit tak lagi mampu menyentuhnya. Tidak ada lagi tusukan jarum suntik, tidak ada lagi helaan napas yang berat, dan tidak ada lagi air mata yang tersembunyi di balik senyum tegar Ayah. Tubuh yang rentan dan lelah itu akhirnya bisa beristirahat dalam pelukan kasih Sayang-Nya yang paling sempurna.
Selamat beristirahat dengan tenang, Ayah. Rasa sakit itu telah sirna sepenuhnya, berganti dengan kehangatan pelukan Ibu yang telah lama menanti. Kami di sini belajar merelakan, meski setiap sudut rumah ini akan selalu merindukan kehadiranmu. Biarlah air mata kami jatuh sebagai gerimis doa, mengiringi tidur panjangmu yang kini telah sepenuhnya bebas dari derita, bersanding bahagia bersama cinta sejatimu.
Kami yang ditinggalkan hanya bisa menatap ruang kosong yang ditinggalkan Ayah. Rumah ini terasa begitu lapang, namun terasa menyiksa tanpa hadirnya senyum dan ketegaran beliau. Selamat jalan, Ayah… Peluk hangat Ibu di sana. Tangis kami adalah saksi betapa bahagianya kami pernah memiliki sosok sehebat dirimu, dan doa kami akan terus mengalir mengiringi tidur panjangmu bersama cinta sejatimu.










