BeritaPers. Ragam || Mataku menatap satu nama Rembulan Hati Aisyah, saat menulis nilai di daftar nilai mahasiswa. Nama yang mengingatkanku pada salah satu judul sinetron lawas tahun 2000-an, ternyata telah tiada. Mata ini terasa lembap, dan setiap tarikan napas terasa begitu berat. Pikiranku melintas saat setiap mengisi presensi dan menyebut namanya, temannya menyebutkan bahwa Aisyah sudah tiada, tetapi selalu saja kusebutkan setiap mengabsen. Di ruang kelas yang biasanya riuh, kini ada satu kekosongan yang menyesakkan. Rembulan Hati Aisyah sebuah nama yang unik, indah, dan kini menjelma menjadi kenangan yang getir. Saya baru tersadar sepenuhnya ketika perampungan nilai, mahasiswa santun itu kini telah tiada, telah berpulang memenuhi panggilan Rabb-nya.
Bayangan senyum manis dan binar matanya yang cerah saat duduk di bangku kelas masih terekam jelas. Di balik ketenangannya, saya tak pernah menduga bahwa ia sedang bertarung melawan rasa sakit. Ia sedang menempuh ujian yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan akademik di kampus.
Ada rasa sesal yang menghimpit, sebuah rasa gagal sebagai dosen karena tak sempat memberikan perhatian lebih di saat-saat terakhirnya. Namun, takdir tak memberi ruang untuk memutar waktu. Kini, yang tersisa hanyalah doa dan catatan tentang seorang gadis istimewa yang hidupnya adalah wujud dari kesabaran yang nyata.
Sebuah Nama, Sebuah Bakti
Aisyah lahir di bawah langit Sungguminasa pada 5 April 2006, sebagai putri sulung yang menjadi tumpuan harapan bagi ayahanda Andri Wijayanarko dan ibunda Nuraeni N. Sejak kecil, ia adalah potret kesederhanaan. Ia tidak pernah menuntut, tak pernah mengeluh. Jika menginginkan sesuatu, ia hanya menatap lembut dengan sorot mata yang teduh. Sebuah anggukan dan senyuman tulus selalu ia berikan, meski keinginannya belum terpenuhi.
Jalan hidupnya adalah jalan ketaatan. Dari madrasah ibtidaiyah hingga bangku kuliah di PGMI UIN Alauddin Makassar, Aisyah menjalani setiap keputusan orang tuanya dengan lapang dada. Baginya, ridha orang tua adalah ridha Allah. Ia adalah anak sholehah yang menjadikan hijab sebagai mahkota ketaatan dan menyimpan setiap nasihat orang tuanya sebagai lentera hidup.
Jumat yang Syahdu
Hingga tiba saatnya, di Jumat malam yang tenang pada 26 September 2025, dalam usia yang masih sangat muda 19 tahun 5 bulan 21 hari sang Rembulan benar-benar pulang. Ia pergi dengan tetap menjaga iman, adab, dan hijabnya hingga napas terakhir.
Ia meninggalkan ketiga adiknya Radithya, Latifa, dan Alfatih dengan warisan teladan tentang bagaimana menjadi pribadi yang rendah hati. Meski raga ini merapuh karena sakit, hatinya tetap teguh meyakini bahwa takdir Allah selalu berujung pada kebaikan.
Penutup Doa
Selamat jalan, Rembulan Hati Aisyah. Terima kasih telah hadir dan memberi warna di ruang kelas kami, meski hanya sekejap. Terima kasih atas pelajaran tentang kesabaran tanpa kata.
“Ya Allah, terimalah setiap sujudnya, ampunilah segala khilafnya, dan tempatkanlah ia di tempat terbaik di sisi-Mu. Jadikanlah setiap air mata doa kami sebagai cahaya yang menerangi alam barzakhnya. Aamiin ya robbal ‘alamin.”
Catatan: Kisah ini dirangkum berdasarkan penuturan kasih sayang dari sahabat almarhumah, Nurul Hidayah Malik, dan kenangan mendalam dari dosennya.






















Discussion about this post