Suatu malam, ketika hujan deras mengguyur desa, Miyang mengetuk pintu rumah sederhana Kania. Wajahnya basah, entah oleh air hujan atau air mata. “Aku sudah putuskan,” katanya dengan suara parau. “Aku akan pergi dari rumah. Aku akan cari pekerjaan di kota, dan kita bisa mulai dari nol. Bersamamu.”
Kania menatapnya, hatinya terbelah antara cinta dan logika. Ia tahu keputusan itu akan menyakiti banyak orang, termasuk Miyang sendiri. Dengan air mata mengalir, ia berkata, “Miyang, aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu mengorbankan segalanya. Pergilah, temui gadis yang dipilih ayahmu. Jika dia bukan untukmu, aku akan menunggu. Tapi jika dia bisa memberimu kehidupan yang lebih baik, lepaskan aku.”
Miyang terdiam, dadanya sesak. Untuk pertama kalinya, ia merasa dunia begitu kejam. Ia ingin berteriak, ingin melawan, tapi melihat Kania yang berusaha tegar di depannya, ia tahu keputusan itu adalah bentuk cinta Kania kepadanya.
Tahun-tahun berlalu. Miyang menikahi gadis pilihan ayahnya, tapi hatinya tak pernah penuh. Ia membangun bisnis sukses, seperti yang diinginkan keluarganya, tapi setiap kali melihat lukisan senja di galeri seni, ia teringat Kania. Sementara itu, Kania menjadi pelukis terkenal, karyanya dipamerkan di berbagai kota. Di setiap goresan kuasnya, ada bayang-bayang Miyang—cinta yang tak pernah pudar, tapi tak pernah tersampaikan.
Di tepi Danau Toba, di bawah senja yang sama, Kania kadang duduk sendiri, memandang air yang tenang. Ia tersenyum kecil, menggenggam sketsa lama yang pernah ia buat untuk Miyang. “Kau bahagia di sana, kan?” bisiknya pada angin. Dan di suatu tempat, Miyang menatap langit yang sama, berharap angin membawa doanya pada Kania.





















