BeritaPers. Ragam – Malam itu, di bawah bintang-bintang yang berkelip, Kania memecah keheningan. “Miyang, mungkin ini saatnya kita berhenti bermimpi. Ayahmu sudah memilih jalan untukmu.”
Miyang menggeleng keras, matanya berkilat. “Aku tidak mau menyerah, Kania. Aku akan bicara lagi dengan ayah. Aku akan buktikan bahwa aku bisa membangun masa depan tanpa harus mengorbankan cinta kita.”
Kania memandangnya, hatinya perih. Ia tahu betapa keras kepala Miyang, tapi ia juga tahu betapa kuatnya tekanan keluarga. “Miyang, aku tak ingin kau bertengkar dengan keluargamu karena aku. Aku ingin kau bahagia, meski… meski bukan denganku.”
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dada Miyang. Ia meraih tangan Kania, kali ini tanpa ragu. “Jangan bilang begitu. Kau adalah kebahagiaanku.”

Hari-hari berikutnya dipenuhi ketegangan. Miyang mencoba berulang kali membujuk ayahnya, tapi setiap percakapan berakhir dengan nada tinggi. “Kau tidak tahu apa yang terbaik untukmu!” bentak ayahnya. Sementara itu, Kania mulai menjauh, menghindari pertemuan di tepi danau. Ia tak ingin menjadi beban, tak ingin Miyang kehilangan keluarganya.





















