Danpos TNI AL Pinrang, Letda Laut (P) Walno, menyebut lomba lepa-lepa ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan juga wadah untuk mempererat sinergi antara TNI AL dan masyarakat pesisir.
“Sebagai insan maritim, kami sangat mengapresiasi antusiasme warga Desa Ujung Lero dalam menyukseskan lomba ini. Tradisi balap perahu lepa-lepa adalah warisan budaya bahari yang harus terus dijaga, sekaligus menjadi simbol semangat gotong royong masyarakat pesisir,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa momentum HUT TNI ke-80 sekaligus peringatan Maulid Nabi menjadi momen istimewa untuk meneguhkan kedekatan TNI AL dengan rakyat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa keberadaan Pos TNI AL Pinrang senantiasa hadir mendukung masyarakat, menjaga laut, sekaligus melestarikan tradisi bahari. Harapan kami, kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang tidak hanya menghidupkan budaya, tetapi juga mendorong pariwisata bahari di Ujung Lero,” tambahnya.
Perlombaan diikuti oleh 13 peserta di setiap race dengan format dua putaran. Hari pertama menyajikan tiga race sebagai babak kualifikasi menuju semifinal.
Suasana pesisir semakin semarak ketika masyarakat berbondong-bondong menyaksikan perahu-perahu lepa-lepa berpacu di atas ombak. Sorak sorai penonton dan dukungan dari tepi pantai menambah meriah jalannya perlombaan.
Hari pertama lomba berakhir pukul 16.00 WITA dan dijadwalkan berlanjut pada Sabtu (27/9/2025) sore untuk babak semifinal hingga final.
Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga dinilai berpotensi besar mengangkat nama Desa Ujung Lero sebagai destinasi wisata bahari. Keindahan laut Teluk Parepare, ditambah tradisi balap perahu lepa-lepa yang unik, dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Dengan semangat kebersamaan yang ditunjukkan, lomba perahu tradisional ini bukan hanya sekadar peringatan seremonial HUT TNI, melainkan juga wujud nyata sinergitas TNI dan rakyat dalam melestarikan budaya serta menjaga persatuan di wilayah pesisir.










