BeritaPers. Gowa || Pada hari Rabu, 11 Februari 2026, sebuah momentum akademik yang krusial terselenggara dalam rangka mengakhiri fase awal pengamatan lapangan mahasiswa. Bertempat di Cafe Jaynet Gowa, kegiatan refleksi Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) 1 bagi Mahasiswa Kelompok 11 Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah dan Keburuan UIN Alauddin Makassar dilaksanakan dengan khidmat. Dimulai tepat pukul 10.30 WITA, forum ini menjadi jembatan dialektis antara teori yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan realitas objektif di MI Ash-Shalihin.
Pemilihan Cafe Jaynet sebagai lokus kegiatan bukanlah tanpa pertimbangan strategis. Dr. Muh Anwar. HM, selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), menginisiasi pemilihan lokasi ini didasari oleh kedekatan geografis dengan mitra sekolah, namun lebih jauh lagi, beliau menginginkan adanya pergeseran atmosfer akademik. Lingkungan kafe yang rileks diharapkan mampu memicu aliran ide yang lebih cair dan jujur, melepaskan sekat formalitas yang kaku tanpa sedikit pun mengeliminasi esensi substansial dari evaluasi pendidikan itu sendiri bagi Kelompok 11.
Kegiatan refleksi ini pada hakikatnya bertujuan untuk melakukan dekonstruksi terhadap seluruh temuan mahasiswa selama berada di sekolah mitra. Refleksi PLP 1 dirancang untuk menakar sejauh mana mahasiswa mampu memotret kultur sekolah, struktur organisasi, serta dinamika manajerial di MI Ash-Shalihin. Melalui diskusi ini, diharapkan muncul kesadaran kritis (critical consciousness) mengenai peran calon manajer pendidikan di masa depan dalam menghadapi kompleksitas institusi sekolah melalui kacamata manajerial yang tajam.
Acara dipandu dengan taktis oleh Muhammad Yahya selaku moderator, yang membuka ruang diskusi dengan menekankan pentingnya objektivitas dalam pelaporan. Sebagai representasi dari 8 orang Mahasiswa Kelompok 11, Novrianti mempresentasikan hasil observasi kolektif secara komprehensif. Paparannya mencakup analisis mendalam mengenai manajemen kurikulum, sarana prasarana, hingga pola interaksi sosial yang membentuk ekosistem pendidikan di lingkungan MI Ash-Shalihin selama periode praktik berlangsung.
Dalam perspektifnya, Dr. Muh Anwar. HM menyampaikan bahwa ruang terbuka seperti ini adalah laboratorium sosial mini yang efektif bagi calon intelektual. Beliau menegaskan bahwa proses belajar tidak selamanya harus terkurung dalam dinding kelas yang konvensional. “Kami memilih suasana baru ini untuk merangsang kognisi mahasiswa agar lebih eksploratif. Esensi refleksi adalah kejujuran berpikir, dan kenyamanan lingkungan merupakan katalis utama bagi Kelompok 11 untuk mencapai kedalaman analisis tersebut,” ujar beliau dengan nada yang penuh wibawa.

Sitti Husnih, S.Pd.I, selaku Guru Pamong, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi kedelapan mahasiswa tersebut selama masa bakti mereka. Beliau mencatat bahwa keberadaan mahasiswa memberikan warna tersendiri dalam dinamika administrasi dan akademik sekolah. Dalam narasinya, beliau menekankan bahwa refleksi ini adalah momen penyelarasan persepsi antara pihak sekolah dengan akademisi, guna memastikan bahwa temuan lapangan yang dihasilkan benar-benar merepresentasikan wajah otentik MI Ash-Shalihin secara faktual.
Suara mahasiswa pun turut mewarnai kedalaman diskusi ini dengan argumen-argumen yang reflektif. Salah satu anggota Kelompok 11 mengungkapkan bahwa pengalaman PLP 1 ini telah membuka cakrawala baru mengenai kompleksitas operasional sebuah madrasah. “Kami menyadari bahwa manajemen pendidikan bukan sekadar urusan administratif di atas kertas, melainkan seni mengelola sumber daya manusia dan ekspektasi masyarakat,” ungkapnya, merefleksikan kedewasaan berpikir yang mulai terbentuk selama masa observasi.
Mahasiswa lainnya menambahkan bahwa pemilihan suasana di Cafe Jaynet sangat membantu mereka dalam mengekspresikan kendala yang ditemui di lapangan secara lugas. Menurutnya, diskusi yang santai namun tetap terstruktur membuat setiap butir evaluasi terasa seperti pertukaran intelektual yang membangun, bukan sekadar pemenuhan kewajiban kurikuler. Hal ini membuktikan bahwa efektivitas proses refleksi sangat dipengaruhi oleh ruang dan kenyamanan psikologis partisipannya dalam beraspirasi.
Refleksi ini juga membedah aspek-aspek mikro yang sering luput dari perhatian, seperti efektivitas komunikasi internal organisasi hingga implementasi kebijakan literasi madrasah. Melalui presentasi Novrianti, audiens diajak melihat bagaimana MI Ash-Shalihin berupaya menjaga integritas akademik di tengah tantangan zaman yang kian dinamis. Diskusi mengalir dengan adanya umpan balik langsung dari DPL dan Guru Pamong, menciptakan sebuah ekosistem belajar yang kolaboratif dan suportif bagi seluruh peserta.
Secara holistik, kegiatan ini berhasil memetakan berbagai dimensi manajerial yang ada di MI Ash-Shalihin secara akurat. Kedelapan Mahasiswa MPI UINAM yang tergabung dalam Kelompok 11 tampak antusias mengikuti setiap sesi, mencatat setiap masukan yang diberikan untuk penyempurnaan laporan akhir. Keberhasilan refleksi ini menjadi indikator bahwa koordinasi antara UIN Alauddin Makassar dengan pihak sekolah mitra berjalan dengan sangat harmonis dan mengedepankan profesionalisme tingkat tinggi.
Sebagai penutup, kegiatan yang berakhir pada siang hari tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh partisipan yang hadir. Esensi dari PLP 1 sebagai fase pengenalan telah tercapai melalui dialog yang bernas, transparan, dan bermartabat. Cafe Jaynet menjadi saksi bisu bagaimana calon-calon manajer pendidikan dari Kelompok 11 ini mulai merajut pemikiran kritis mereka, mempersiapkan diri untuk kontribusi yang lebih besar di masa yang akan datang dalam dunia pendidikan Islam.
Narasi besar dari pertemuan 11 Februari 2026 ini adalah tentang integritas dan adaptabilitas dalam dunia pendidikan. Meskipun dilaksanakan dalam suasana yang informal, standar akademik tetap terjaga dengan ketat melalui kualitas dialektika dan kedalaman materi yang dipresentasikan. Ini adalah bukti nyata bahwa inovasi dalam metode pembimbingan dapat meningkatkan kualitas output mahasiswa, sekaligus mempererat hubungan kemitraan antara perguruan tinggi dengan sekolah mitra secara elegan dan berkelanjutan.






















Discussion about this post