BeritaPers. Makassar || – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Babul Rahman yang terletak di Kompleks Panakkukang Delta Mas 1, Kota Makassar, pada pelaksanaan salat Jumat (27/03/2026). Meskipun mengusung desain arsitektur yang minimalis, masjid ini menyuguhkan kenyamanan luar biasa bagi para jemaah dengan tata ruang yang rapi dan kesejukan yang terjaga sejak memasuki area pelataran.
Kegiatan ibadah mingguan tersebut diawali dengan laporan rutin dari pengurus masjid. Bapak Andi Nasruddin, selaku perwakilan pengurus Masjid Babul Rahman, berdiri di mimbar untuk memberikan penjelasan mengenai perkembangan kas masjid, rencana kegiatan sosial, serta pemeliharaan fasilitas demi kenyamanan jemaah yang terus meningkat setiap pekannya.
Memasuki inti ibadah, hadir sebagai khatib adalah Dr. Muh Anwar. HM. Sosok akademisi sekaligus mubalig ini dikenal luas oleh masyarakat Makassar karena gaya penyampaiannya yang lugas, sistematis, namun tetap menyentuh sisi spiritual terdalam. Kehadirannya di mimbar Babul Rahman kali ini sangat dinantikan oleh jemaah kompleks dan sekitarnya.
Dalam khutbahnya, Dr. Muh Anwar mengangkat tema yang sangat relevan dengan suasana pasca-Ramadan, yakni “Syawal: Jangan Biarkan Mesin Ibadah Kita Berkarat.” Istilah “mesin ibadah” digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan kedisiplinan spiritual yang telah dibentuk selama sebulan penuh berpuasa.
Khatib menjelaskan bahwa Ramadan sejatinya adalah bengkel besar tempat setiap Muslim melakukan servis total terhadap jiwa dan raganya. Menurutnya, keberhasilan puasa seseorang tidak diukur dari kemeriahan hari raya, melainkan dari konsistensi ibadah yang terus berjalan setelah bulan suci tersebut meninggalkan kita.
“Jangan sampai setelah Ramadan berlalu, mesin ibadah kita yang sudah panas dan lancar justru didiamkan hingga berkarat. Salat malam yang rutin, interaksi dengan Al-Qur’an, dan sedekah yang ringan tangan seharusnya tetap menjadi bahan bakar utama dalam kehidupan sehari-hari di bulan Syawal ini,” ujar Dr. Muh Anwar dengan nada yang berwibawa.
Beliau menekankan bahwa fenomena penurunan semangat ibadah pasca-Ramadan adalah tantangan nyata. Dr. Muh Anwar mengajak jemaah untuk menjadikan bulan Syawal sebagai momentum pembuktian bahwa perubahan perilaku ke arah yang lebih baik bersifat permanen, bukan sekadar musiman atau mengikuti tren ritual tahunan semata.
Penyampaian Dr. Muh Anwar yang sangat tenang dan terukur membuat jemaah tampak terpaku menyimak setiap poin khutbah. Beliau mampu mengemas pesan-pesan teologis yang berat menjadi nasihat praktis yang mudah dicerna oleh berbagai kalangan, mulai dari generasi muda hingga para orang tua yang hadir.
Suasana Masjid Babul Rahman yang tenang dan bersih turut mendukung kekhusyukan para jemaah. Walaupun terletak di tengah area perumahan yang padat, manajemen kebersihan dan sirkulasi udara yang dikelola oleh tim Bapak Andi Nasruddin membuat masjid minimalis ini terasa sangat lapang dan menenangkan bagi siapa saja yang beribadah di dalamnya.
Sinergi antara pengurus masjid yang transparan dan khatib yang mumpuni menjadikan pelaksanaan salat Jumat kali ini terasa lebih bermakna. Hal ini sejalan dengan visi Masjid Babul Rahman untuk tidak hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga pusat edukasi moral bagi warga Kompleks Panakkukang Delta Mas 1.
Ibadah Jumat kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Dr. Muh Anwar. Dalam bait-bait doanya, beliau memohon agar seluruh masyarakat diberikan kekuatan untuk tetap istiqomah menjaga api ibadah agar tetap menyala, sehingga predikat takwa yang diraih benar-benar membekas dalam interaksi sosial.
Setelah salat selesai, para jemaah membubarkan diri dengan tertib. Pesan tentang “mesin ibadah yang tidak boleh berkarat” menjadi buah bibir dan bahan refleksi bagi warga saat mereka melangkah keluar dari kenyamanan Masjid Babul Rahman untuk kembali melanjutkan aktivitas rutin di penghujung bulan Maret ini.






















Discussion about this post