Beritapers.Makassar— Komitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan nonformal di Kabupaten Gowa semakin kokoh. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kabupaten Gowa hari ini menggelar Pertemuan Forum Tutor, sebuah agenda penting yang merupakan hasil kerja sama multisegi.
Kegiatan ini terwujud berkat sinergi antara Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten Gowa, UNICEF, dan Lembaga Pemberdayaan Pendidikan (LPP) Bone. Kemitraan ini menunjukkan perhatian besar terhadap pendidikan kesetaraan.
Pertemuan Forum Tutor ini berlangsung di Hotel Continent Makassar, pada hari Selasa (11/11/2025). Forum ini menjadi ruang berbagi praktik terbaik di antara para pendidik nonformal.
Total peserta yang hadir sebanyak 21 orang, yang terdiri dari perwakilan 19 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang beroperasi di wilayah Kabupaten Gowa.
Siti Eliza Mufti, Spesialis Pendidikan UNICEF, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah salah satu dukungan utama UNICEF untuk mendukung kualitas pembelajaran di PKBM dan SKB itu berjalan dengan standar yang tinggi.
Fokus utama pelatihan ini adalah bagaimana memfasilitasi keterampilan abad ke-21 pada peserta didik. Keterampilan ini meliputi kemampuan berkolaborasi, berkomunikasi, berpikir kritis, dan berkreasi.
“Nah ini merupakan salah satu tindak lanjut juga dimana kita melakukan pengimbasan pada PKBM, SKB yang lainnya di Kabupaten Gowa,” jelas Siti Eliza Mufti, menegaskan bahwa ilmu yang didapat harus disebarluaskan.
Siti Eliza Mufti menambahkan, modul pemberdayaan yang dikembangkan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengintegrasikan empat keterampilan dasar abad 21 tersebut melalui pembelajaran berbasis proyek. “Peserta didik diminta untuk menelaah isu-isu masalah di sekitarnya, yang kemudian mereka mencoba untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut,” terangnya.
Ia memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Gowa. Menurutnya, Gowa luar biasa dalam mendorong peningkatan kualitas di pendidikan nonformal, khususnya pendidikan kesetaraan, dan juga bagaimana penanganan anak tidak sekolah (ATS).
Dorongan ini sangat krusial, mengingat Sulawesi Selatan masih menghadapi tantangan besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat bahwa sekitar 7,25% anak di Sulawesi Selatan masih tidak bersekolah.
“Jadi harapan kami kedepannya memang benar-benar semua anak bisa kembali bersekolah dan yang kembali bersekolah baik formal maupun nonformal ini bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas,” pungkas Siti Eliza Mufti, menutup pernyataannya dengan harapan besar bagi masa depan pendidikan anak-anak di Gowa dan Sulawesi Selatan.










