Bulukumba,- Sejak pagi hingga menjelang senja, langkah Tim BAZNAS Kabupaten Bulukumba tak berhenti menyusuri tujuh kecamatan: Gantarang, Ujung Bulu, Ujung Loe, Bonto Bahari, Herlang, Kajang, dan Rilau Ale. Di bawah terik matahari, mereka bergerak dari satu rumah ke rumah lain, bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga harapan bagi warga yang hidup dalam keterbatasan.
Di balik setiap kunjungan, ada cerita yang mengendap di hati. Bantuan yang disalurkan beragam, mulai dari pelunasan tunggakan BPJS Kesehatan, bantuan biaya hidup dan pengobatan, hingga asesmen rumah warga yang rusak akibat angin kencang pada malam hari. Dapur-dapur yang roboh tertimpa pohon menjadi saksi betapa rapuhnya kehidupan sebagian warga. Tim juga menemui lansia-lansia yang hidup sebatang kara, tanpa keluarga yang mendampingi hari tuanya. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 17 Desember 2025.
Di salah satu sudut desa, tim menemukan seorang lansia yang hidup di kandang ayam, bertahan dalam kondisi yang nyaris tak layak huni. Di tempat lain, seorang perempuan dewasa yang belum menikah berjuang melawan kanker payudara. Ia harus menjalani kemoterapi, namun keterbatasan biaya membuat setiap langkah pengobatan terasa semakin berat.
Ada pula kisah seorang pasien yang dibantu pelunasan tunggakan BPJS Kesehatannya, namun tak lama setelah bantuan itu tersalurkan, ia mengembuskan napas terakhir.
“Peristiwa-peristiwa seperti ini selalu mengingatkan kami bahwa waktu dan akses layanan kesehatan adalah hal yang sangat berharga,” ujar Samra, salah seorang anggota Tim BAZNAS Bulukumba.
Perjalanan ini bukan tanpa hambatan. Tim sempat tersesat dan harus berputar hampir satu jam untuk menemukan rumah warga yang akan diasesmen.
Namun lelah itu seakan sirna ketika bertemu seorang ibu yang menderita penyakit gula darah tinggi hingga harus menjalani amputasi pada jari kelingking kakinya.
Bantuan pengobatan yang disalurkan menjadi penguat bahwa ia tidak berjuang sendirian.
“Meski tubuh lelah dan langkah terasa berat, setiap rumah yang kami datangi justru menguatkan hati kami. Di sana ada ketabahan, ada keterbatasan, dan ada harapan sederhana: ingin hidup lebih layak dan tetap merasa diperhatikan,” tutur Samra.
Bagi BAZNAS Kabupaten Bulukumba, kerja-kerja kemanusiaan bukan sekadar soal angka bantuan yang tersalurkan. Ia adalah tentang hadir sepenuh hati, mendengarkan, menemani, dan memastikan bahwa di tengah segala keterbatasan, harapan tetap memiliki tempat untuk menyala.
RR










