BERITAPERS || MAKASSAR – Senin, 16 Februari 2026. Ketua RW 004 Kunjung Mae, Muhammad Thohad Hasil, resmi menjalin kerja sama dengan Bank Sampah Pusat Kota Makassar dalam upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mendorong peningkatan nilai ekonomi dari limbah anorganik di wilayahnya.
Kerja sama tersebut mencakup penjemputan dan pembelian sampah anorganik yang dihimpun melalui Bank Sampah Umum (BSU) RW 004, Kelurahan Kunjung Mae, Kecamatan Mariso. Program ini dirancang sebagai langkah strategis untuk menata lingkungan agar lebih bersih, sehat, dan tertata, sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi warga.
Muhammad Thohad Hasil menjelaskan, inisiatif ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya. Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen warga.
“Program ini bukan sekadar soal kebersihan, tetapi juga bagaimana sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kami ingin lingkungan bersih, dan warga juga merasakan dampak positifnya,” ujarnya.
Sebagai tahap awal, pihak RW melibatkan para Ketua RT untuk menyiapkan empat unit keranjang sampah di sejumlah titik strategis. Keranjang tersebut dibuat secara swadaya menggunakan jaring besi berbentuk bundar dengan tinggi sekitar dua meter. Fasilitas ini difungsikan sebagai tempat penampungan sementara sebelum sampah anorganik disetorkan ke BSU.
Model pengelolaan yang diterapkan mengutamakan pemilahan berdasarkan jenis material seperti plastik, kardus, botol, dan logam. Warga didorong untuk memastikan sampah dalam kondisi bersih dan kering guna meningkatkan nilai jual. Setelah terkumpul, sampah dicatat dan dilaporkan ke Bank Sampah Pusat untuk dijadwalkan penjemputannya.
“Kita kumpulkan semua dulu di BSU, nanti dijemput Bank Sampah Pusat,” tambah Thohad.
Sementara itu, perwakilan Bank Sampah Pusat, Juardi, menjelaskan bahwa sistem penjemputan dilakukan berdasarkan laporan resmi dari BSU minimal satu hari sebelumnya. Hal ini bertujuan agar armada yang digunakan dapat disesuaikan dengan volume sampah yang akan diangkut.
“Kalau lima karung, mobil kecil. Kalau lebih dari 10 karung, mobil besar. Jadi harus telepon satu hari sebelumnya supaya terjadwal,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa nilai jual sampah sangat bergantung pada kualitas pemilahan dan kebersihan material. Semakin baik proses pemilahan di tingkat warga, semakin tinggi pula harga yang bisa diperoleh.
Sebagai informasi, Bank Sampah Pusat Makassar berada di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar dan berlokasi di Jalan Toddopuli Raya. Lembaga ini menjadi pusat pengolahan dan distribusi hasil pengumpulan sampah anorganik dari berbagai wilayah di Kota Makassar.
Melalui kerja sama ini, RW 004 Kunjung Mae diharapkan dapat menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis komunitas di Kecamatan Mariso. Ke depan, pengurus RW juga berencana memperluas partisipasi warga dengan sistem tabungan sampah yang lebih terstruktur, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Langkah kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat ini dinilai sebagai bentuk konkret implementasi pengelolaan sampah terpadu, yang tidak hanya menyasar aspek kebersihan lingkungan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi warga di tingkat akar rumput. ( MLP)










