BERITAPERS || LANRISANG, PINRANG — Di tengah derasnya arus informasi di era digital, kemampuan memilah fakta dan kebohongan menjadi tantangan besar bagi generasi muda. Menjawab tantangan tersebut, SMAN 10 Pinrang resmi melantik pengurus organisasi ekstrakurikuler Pandu Digital pada Senin (12/10/2026), sebagai langkah nyata membangun kesadaran literasi digital sekaligus membentengi pelajar dari ancaman hoaks dan misinformasi.
Pelantikan yang berlangsung serentak bersama organisasi ekstrakurikuler lainnya itu menjadi momentum penting bagi SMAN 10 Pinrang untuk menanamkan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi secara bijak. Pandu Digital diharapkan tidak sekadar menjadi wadah pengembangan minat dan kreativitas siswa, tetapi juga menjadi penggerak budaya bermedia digital yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab di lingkungan sekolah.
Kepala SMAN 10 Pinrang, Hj. Ida Riliani, SE., M.Pd., menegaskan bahwa kehadiran Pandu Digital merupakan bentuk respons sekolah terhadap perkembangan teknologi informasi yang semakin dekat dengan kehidupan pelajar.
Menurutnya, kemudahan mengakses informasi melalui gawai harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar siswa tidak mudah terpengaruh, apalagi ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Anak-anak kita setiap hari bersentuhan dengan gawai dan berbagai informasi dari media sosial. Karena itu, mereka harus dibekali kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Pandu Digital bukan sekadar organisasi ekstrakurikuler, tetapi diharapkan menjadi garda terdepan dalam mengedukasi teman-temannya agar lebih bijak menggunakan teknologi,” tegas Ida Riliani.
Ia berharap, melalui organisasi ini, para siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan gagasan, pengetahuan, dan konten positif yang bermanfaat bagi masyarakat.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Syahrir, S.Pd., menyampaikan bahwa pembinaan Pandu Digital akan diarahkan untuk membangun kecakapan digital siswa sekaligus menciptakan lingkungan pergaulan yang sehat, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Menurutnya, kecerdasan akademik perlu berjalan beriringan dengan karakter, etika, serta kemampuan memahami dampak dari setiap tindakan, termasuk ketika berkomunikasi dan membagikan informasi melalui media sosial.
“Kami ingin siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan digital dan tanggung jawab sosial. Melalui Pandu Digital, kami berharap lahir pelajar yang mampu mengajak teman-temannya menciptakan ruang interaksi digital yang positif, saling menghargai, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi,” ujarnya.
Di bawah bimbingan Murdani selaku guru pembina, pengurus Pandu Digital akan mulai menyusun program kerja yang berorientasi pada peningkatan literasi digital, edukasi ant hoaks, serta pembiasaan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.
Program tersebut diharapkan dapat menjangkau lebih banyak siswa melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar, sehingga pesan literasi digital tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan.
Semangat tersebut juga ditunjukkan Padli, siswa kelas XI.4 yang dilantik sebagai Ketua Pandu Digital. Ia menyatakan kesiapannya untuk menjalankan amanah tersebut dan menjadikan organisasi yang dipimpinnya sebagai ruang belajar sekaligus gerakan positif bagi seluruh warga sekolah.
“Fokus pertama kami adalah mengampanyekan gerakan saring sebelum sharing. Kami ingin mengajak teman-teman agar tidak langsung percaya atau menyebarkan informasi yang diterima, terutama di grup-grup percakapan. Periksa dulu sumber dan kebenarannya sebelum membagikannya kepada orang lain,” kata Padli.
Bagi para pelajar, satu informasi yang dibagikan mungkin terlihat sederhana. Namun, ketika informasi tersebut tidak benar, dampaknya dapat meluas, menimbulkan kesalahpahaman, merusak nama baik seseorang, bahkan memicu konflik di tengah masyarakat.
Karena itu, gerakan literasi digital perlu dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk sekolah, tempat generasi muda belajar membangun karakter, menghargai sesama, dan mempertanggungjawabkan setiap tindakan.
Pelantikan Pandu Digital SMAN 10 Pinrang diharapkan menjadi awal dari gerakan berkelanjutan yang menempatkan siswa sebagai bagian dari solusi di tengah derasnya arus informasi digital.
Lebih dari sekadar mengenali berita palsu, para anggota Pandu Digital diharapkan mampu menumbuhkan keberanian untuk memeriksa fakta, membangun kebiasaan berpikir kritis, serta menyebarkan informasi yang bermanfaat.
Sebab, melawan hoaks bukan hanya soal kecakapan menggunakan teknologi, melainkan juga tentang kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sesama. Dari ruang kelas dan lingkungan sekolah, langkah kecil para pelajar ini diharapkan tumbuh menjadi gerakan yang membawa perubahan positif bagi masyarakat luas. (MLP)










