TAKALAR — Kasus pembunuhan disertai dugaan perampokan yang menimpa seorang nenek bernama Mo’mi atau Daeng Paleng di Kabupaten Takalar hingga kini masih belum menemukan titik terang.
Waktu terus berjalan sejak korban ditemukan meninggal dunia, namun pelaku pembunuhan yang diduga turut merampas perhiasan emas milik korban masih belum berhasil diungkap.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar dari masyarakat dan keluarga korban. Mengapa perkara pembunuhan yang telah berlangsung cukup lama ini belum juga berhasil mengungkap siapa pelakunya?
Masyarakat pun mendesak agar penanganan perkara tersebut tidak hanya terus dilakukan dengan pola yang sama.
Jika Polres Takalar dan jajaran Polsek Mapsu belum mampu mengungkap kasus tersebut dalam waktu yang cukup lama, muncul desakan agar Polda Sulawesi Selatan turun tangan dan mengambil alih penanganan perkara.
Desakan tersebut muncul karena masyarakat berharap penanganan kasus dapat dilakukan dengan kekuatan penyelidikan yang lebih besar, sumber daya yang lebih lengkap, serta tim khusus yang mampu memburu pelaku.
Kasus ini dinilai bukan perkara biasa.
Seorang perempuan lanjut usia kehilangan nyawa. Sementara sejumlah barang berharga berupa perhiasan emas diduga turut raib.
Karena itu, masyarakat mempertanyakan apakah penanganan kasus tersebut perlu ditingkatkan ke level Polda Sulsel apabila belum juga menemukan perkembangan signifikan.
“Kalau sudah lama dan belum juga terungkap, masyarakat tentu berhak meminta Polda Sulsel turun tangan,” menjadi salah satu desakan yang muncul dalam menyikapi mandeknya pengungkapan kasus tersebut.
Desakan pengambilalihan perkara oleh Polda Sulsel dinilai sebagai upaya untuk memastikan kasus kematian nenek Mo’mi tidak berlarut-larut dan akhirnya tenggelam tanpa kejelasan.
Publik berharap penyidik di tingkat Polda Sulsel dapat melakukan pendalaman kembali terhadap seluruh fakta, mulai dari pemeriksaan saksi, rekonstruksi kemungkinan peristiwa, penelusuran barang bukti hingga pengembangan bukti digital.
Kasat Reskrim Polres Takalar Iptu Haryanto mengatakan pihak kepolisian masih terus melakukan berbagai langkah penyelidikan untuk mengungkap kasus tersebut.
Menurutnya, kasus pembunuhan nenek Mo’mi mendapat perhatian langsung dari Kapolres Takalar AKBP Ginanjar Fitriadi.
“Baik dapat kami sampaikan bahwa langkah-langkah yang akan kami lakukan atau rencana tindak lanjut tentunya kami tetap melakukan kegiatan atau langkah-langkah penyelidikan. Analisis dan evaluasi ini sangat penting. Terakhir kami dipimpin oleh Bapak Kapolres Takalar AKBP Ginanjar Fitriadi. Beliau sangat atensi kasus ini,” kata Iptu Haryanto.
Haryanto menegaskan kepolisian berkomitmen serius dan tidak berhenti melakukan penyelidikan meskipun perkara tersebut telah berlangsung cukup lama.
“Bagaimana kami dengan serius dengan cepat mengungkap perkara ini karena ini terbilang cukup lama. Namun hal ini kami lakukan secara serius. Setiap minggu kami lakukan analisis dan evaluasi dan kami tidak berhenti sampai kasus ini terungkap,” ujarnya.
Namun, pernyataan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kegelisahan masyarakat.
Sebab, hingga kini, kasus pembunuhan terhadap nenek Mo’mi belum menghasilkan pengungkapan pelaku.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret, bukan sekadar pernyataan bahwa kasus tersebut menjadi perhatian dan terus dilakukan evaluasi.
Pertanyaan yang muncul kemudian, apabila setiap minggu telah dilakukan analisis dan evaluasi namun pelaku belum juga ditemukan, langkah luar biasa apa yang akan dilakukan selanjutnya?
Apakah Polres Takalar akan membentuk tim khusus?
Apakah penanganan perkara akan diambil alih secara penuh oleh Polres Takalar dari Polsek Mapsu?
Ataukah Polda Sulsel perlu turun tangan langsung untuk mengambil alih pengungkapan kasus tersebut?
Desakan agar Polda Sulsel turun tangan semakin menguat karena masyarakat berharap kasus ini mendapatkan penanganan yang lebih maksimal.
Polda Sulsel dinilai memiliki sumber daya penyidikan yang lebih besar untuk membantu membongkar perkara pembunuhan yang hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan.
Iptu Haryanto mengatakan pihaknya juga telah melakukan penelusuran terhadap perhiasan milik korban yang diduga hilang saat peristiwa tersebut terjadi.
Perhiasan berupa kalung dan gelang menjadi salah satu fokus penyelidikan aparat.
“Pernah kami memantau toko-toko emas karena diduga yang hilang ini adalah kalung dan gelangnya. Kami mengecek menyisir dari Takalar sampai di Makassar. Kami sampai saat ini tidak menemukan barang yang persis sama,” ungkapnya.
Polisi pun meminta dukungan masyarakat yang memiliki informasi mengenai perkara tersebut.
Menurut Haryanto, informasi, dugaan, maupun bukti digital dapat membantu penyidik dalam mengungkap pelaku.
“Kami mohon dukungan dari masyarakat baik secara informasi maupun ada penunjukan ataupun dugaan-dugaan siapa yang diduga ataupun bukti-bukti. Mana tahu ada yang punya bukti-bukti digital itu bisa dapat mendukung kami dalam pengungkapan,” jelasnya.
Pihak kepolisian memastikan penyelidikan masih terus berjalan.
“Kami tetap berupaya semaksimal mungkin dan kami tetap melakukan tugas kami selaku aparat penegak hukum sampai kasus ini terungkap,” tutup Iptu Haryanto.
Namun bagi masyarakat dan keluarga korban, waktu terus berjalan.
Kematian nenek Mo’mi hingga kini masih menyisakan duka sekaligus tanda tanya.
Siapa yang membunuh korban? Siapa yang diduga mengambil perhiasan miliknya? Dan mengapa kasus ini belum juga berhasil diungkap?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini menjadi pekerjaan rumah besar bagi aparat penegak hukum.
Masyarakat berharap Polres Takalar mampu membuktikan keseriusannya dengan mengungkap pelaku.
Namun apabila pengungkapan perkara terus menemui jalan buntu, desakan agar Polda Sulsel mengambil alih penanganan kasus pembunuhan dan dugaan perampokan nenek Mo’mi semakin sulit untuk diabaikan.
Bagi keluarga korban, yang dibutuhkan bukan sekadar kabar bahwa penyelidikan masih berjalan.
Mereka membutuhkan kepastian.
Kepastian siapa pelaku yang bertanggung jawab atas kematian nenek Mo’mi.
Dan publik kini menunggu, apakah Polres Takalar mampu segera mengungkap kasus tersebut atau Polda Sulsel harus turun tangan mengambil alih penanganannya.









