BERITAPERS || Lanrisang, Pinrang – Suasana pesisir pantai Dusun Sumpang Saddang Kelurahan Lanrisang Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, akhir pekan ini begitu ramai oleh sorakan masyarakat. Ratusan warga berbondong-bondong menyaksikan ajang balap katinting, sebuah tradisi khas nelayan yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Balap katinting bukan sekadar lomba adu cepat perahu bermesin. Bagi masyarakat pesisir, tradisi ini menjadi simbol keberanian, ketangkasan, sekaligus jati diri nelayan yang sehari-harinya hidup berdampingan dengan laut.
Perahu katinting yang digunakan terbilang unik. Bentuknya kecil, ramping, dan hanya bisa dinaiki oleh satu orang joki. Dengan mesin tempel yang menderu kencang, para peserta melesat di atas air, berpacu dengan ombak, dan adu cepat menuju garis finis. Ketegangan makin terasa ketika perahu-perahu saling berkejaran hanya dengan jarak tipis di tengah sorak sorai penonton.
Tak hanya menjadi ajang olahraga laut, lomba ini juga memberi dampak positif bagi perekonomian warga. Banyak pedagang makanan, minuman, hingga aksesoris khas pesisir yang memanfaatkan keramaian penonton untuk berjualan. Beberapa wisatawan dari luar daerah pun sengaja datang untuk menyaksikan langsung serunya lomba ini.
Tokoh masyarakat setempat, Syarifuddin, menyebut balap katinting sebagai pesta rakyat. “Nelayan di sini sudah terbiasa dengan laut. Lewat katinting mereka menunjukkan kemampuan sekaligus menjaga silaturahmi. Kita ingin kegiatan ini terus dilestarikan supaya anak cucu kita tahu budaya leluhur,” katanya.
Camat Lanrisang, Bachrum Syah, S.STP., M.Si, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi atas semangat masyarakat dalam menjaga tradisi bahari. “Balap katinting bukan hanya ajang hiburan, tetapi juga bagian dari identitas nelayan kita. Pemerintah kecamatan tentu mendukung kegiatan positif ini agar tetap lestari, bahkan bisa menjadi daya tarik wisata bahari di Lanrisang,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa lomba ini akan terus mendapat dukungan pemerintah, terutama dalam aspek keamanan, kesehatan, dan promosi. “Kami ingin tradisi ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tetapi juga bisa menarik wisatawan luar daerah. Dengan begitu, akan ada dampak ekonomi yang lebih besar bagi warga pesisir,” tambahnya.
Pemerintah daerah sendiri telah menyiapkan tim medis serta aparat keamanan untuk memastikan lomba berlangsung aman. Panitia pun menekankan pentingnya sportivitas, di mana para joki diwajibkan menggunakan jaket pelampung sebagai bagian dari keselamatan.
Dengan antusiasme masyarakat yang begitu tinggi, balap katinting diharapkan dapat masuk dalam kalender pariwisata bahari Pinrang. Selain mengangkat identitas budaya pesisir, tradisi ini juga mampu memperkenalkan potensi wisata pantai di daerah tersebut kepada masyarakat luas.
Seiring berjalannya waktu, balap katinting memang telah mengalami modernisasi, terutama dari sisi mesin dan perahu. Namun, semangat gotong royong, keberanian, dan kebersamaan tetap menjadi jiwa dari tradisi ini. Itulah yang membuat balap katinting tidak hanya sekadar perlombaan, melainkan warisan budaya maritim yang patut dijaga bersama. (Mlp)



















