BeritaPers. Bolaromang || – Di tengah hiruk-pikuk klaim kemajuan infrastruktur di Sulawesi Selatan, sebuah potret memilukan sekaligus memalukan terbentang nyata di Desa Bolaromang, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa. Sebuah tanjakan ekstrem yang menjadi urat nadi penghubung Kabupaten Gowa dan Sinjai Barat kini menjadi saksi bisu betapa rakyatnya telah lama “yatim piatu” dari perhatian pemerintah. Jalan yang rusak parah selama bertahun-tahun ini seolah sengaja dibiarkan menjadi jebakan maut bagi setiap pengendara yang melintas.
Kondisi jalan yang hancur lebur ini bukanlah hal baru. Kerusakan yang berlangsung menahun telah memakan banyak korban, mulai dari kendaraan roda dua yang tergelincir hingga kendaraan roda empat yang gagal menanjak dan berujung kecelakaan fatal. Ironisnya, meski jeritan warga Bolaromang telah menggema sekian lama, baik Pemerintah Kabupaten Gowa maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan seolah kompak menutup mata dan telinga, membiarkan debu dan lubang menganga menjadi kawan akrab warga sehari-hari.
Gerah dengan sikap abai penguasa, warga akhirnya bergerak sendiri. Dipelopori oleh sosok perempuan progresif, Ayu Bachir, masyarakat Desa Bolaromang membuktikan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat, bukan di meja pejabat yang dingin. Melalui inisiasi Ayu Bachir, warga menggalang donasi dan mengumpulkan dana swadaya untuk melakukan pengecoran jalan sepanjang 23 meter dengan lebar 2 meter di titik paling kritis tanjakan tersebut.
Pemandangan di lokasi pengecoran sungguh menyayat hati sekaligus membanggakan. Tanpa alat berat milik negara, tanpa anggaran miliaran dari APBD, para orang tua, pemuda, hingga kaum perempuan bahu-membahu mengaduk semen. Mereka tidak sedang membangun monumen kemegahan, mereka sedang berupaya menyambung nyawa dan ekonomi antar-kabupaten yang selama ini terputus oleh ketidakpedulian pemerintah.
Bapak Andi Ansar, salah satu warga yang terlibat, mengungkapkan kepedihannya dengan nada bicara yang bergetar. “Kami lelah berharap. Setiap kali ada pergantian pemimpin, jalan ini selalu dijanjikan, tapi hasilnya nol besar. Kami mengecor jalan ini bukan karena kami kaya, tapi karena kami tidak ingin melihat lagi ada tetangga atau anak sekolah yang jatuh bersimbah darah di tanjakan ini hanya karena jalan yang seperti kubangan kerbau,” tegasnya.

Senada dengan itu, Ibu Suriani yang turut memberikan dukungan moral dan logistik di lapangan, tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya terhadap pemerintah. “Apakah kami harus menunggu ada nyawa yang hilang lebih banyak lagi agar Bapak Gubernur atau Ibu Bupati mau menengok ke sini? Kami membayar pajak, tapi mengapa untuk jalan 23 meter saja kami harus patungan sendiri? Ini sangat memalukan bagi daerah yang katanya sudah maju,” keluhnya sambil menyeka peluh.
Pengecoran swadaya ini adalah tamparan keras bagi birokrasi yang gemar bersolek di media sosial namun lumpuh dalam eksekusi lapangan. Jalan Bolaromang bukan sekadar akses desa, melainkan jalur strategis lintas kabupaten. Jika warga biasa mampu menggerakkan massa dan dana secara mandiri, lantas ke mana perginya anggaran pemeliharaan jalan yang nilainya triliunan rupiah itu? Apakah nasib warga Gowa dan Sinjai Barat hanya berharga saat musim pemilu tiba?
Provokasi yang dilakukan warga melalui aksi nyata ini seharusnya membuat merah telinga para pemangku kebijakan. Ketidakhadiran pemerintah di tengah penderitaan warga Bolaromang adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Setiap butir semen yang diletakkan warga secara swadaya adalah bukti kegagalan negara dalam menjamin hak dasar masyarakatnya, yaitu infrastruktur yang layak dan aman.
Tanjakan ekstrem ini kini memang telah tertutup cor beton setebal semangat warga, namun luka di hati masyarakat tidak akan mudah tertutup. Mereka melakukan pengecoran ini dengan air mata dan keringat sendiri, sementara di kantor-kantor pemerintahan, rencana pembangunan mungkin hanya berakhir di tumpukan berkas yang berdebu. Pengecoran ini adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sistemik yang membiarkan wilayah pelosok terisolasi dalam kerusakan.
Kecelakaan demi kecelakaan yang menimpa roda dua dan roda empat di jalur ini seharusnya sudah cukup menjadi “alarm” bagi nurani pemerintah. Jangan sampai kegigihan Ayu Bachir dan warga Bolaromang ini dianggap sebagai hal biasa. Ini adalah sinyal darurat bahwa kepercayaan rakyat sedang berada di titik nadir. Rakyat telah melakukan tugas pemerintah, lantas untuk apa pemerintah tetap ada jika beban mereka harus dipikul sendiri oleh warga?
Kita menanti, apakah setelah aksi swadaya ini viral, pemerintah akan hadir dengan membawa solusi permanen, ataukah mereka tetap akan membisu di balik kaca mobil mewah mereka yang tak pernah merasakan hancurnya jalan di Bolaromang. Jangan biarkan rakyat berjalan sendirian. Pengabaian infrastruktur adalah pembunuhan ekonomi dan keselamatan warga secara perlahan namun pasti.
Sampai kapan Desa Bolaromang harus menanggung beban ini sendirian? 23 meter jalan yang dicor hari ini adalah pengingat bahwa rakyat tak butuh janji manis di atas kertas, mereka butuh aspal dan beton di bawah roda kendaraan mereka. Semoga pemerintah segera terbangun dari tidur panjangnya sebelum lebih banyak lagi darah tertumpah di tanjakan maut Gowa-Sinjai Barat ini.




















Discussion about this post