BeritaPers || GOWA — Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat di Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, masih menghadapi kondisi cuaca ekstrem berupa hujan deras yang disertai angin kencang yang terjadi hampir setiap hari dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga karena selain mengganggu aktivitas harian dan ibadah Ramadan, juga berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan pohon tumbang mengingat wilayah Tombolopao berada di daerah dataran tinggi dan perbukitan. Berdasarkan keterangan warga, hujan deras biasanya mulai turun pada siang hingga sore hari dan sering berlangsung hingga waktu berbuka puasa bahkan terkadang masih berlanjut hingga pelaksanaan salat Tarawih pada malam hari.
Salah seorang warga Desa Tonasa, Daeng Noro (45), mengatakan kondisi cuaca tahun ini terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena intensitas hujan justru meningkat saat memasuki pertengahan Ramadan. “Biasanya kalau sudah pertengahan Ramadan cuaca mulai stabil, tapi sekarang hujan justru semakin lebat dan angin kencang sering datang tiba-tiba, ini cukup berisiko bagi warga yang sedang berada di jalan atau di kebun,” ujarnya. Cuaca ekstrem tersebut juga berdampak pada sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat, di mana sejumlah tanaman hortikultura seperti tomat dan cabai dilaporkan mengalami kerusakan akibat diterpa angin kencang hingga roboh sebelum masa panen. Selain itu, kabut tebal yang menyertai hujan deras di jalur Malino–Tombolopao menyebabkan jarak pandang pengendara menurun drastis bahkan di beberapa titik hanya mencapai kurang dari lima meter sehingga membahayakan pengguna jalan.
Gangguan listrik juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah akibat ranting pohon yang bergesekan dengan jaringan kabel ketika angin bertiup kencang. Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah setempat bersama pihak terkait mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana terutama tanah longsor dengan menghindari area lereng curam saat hujan turun dalam waktu lama, tidak berteduh di bawah pohon besar saat angin kencang, serta lebih berhati-hati ketika berkendara di jalur berkabut dengan menyalakan lampu kendaraan dan mengurangi kecepatan.
Meski cuaca tidak menentu, semangat masyarakat Tombolopao dalam menjalankan ibadah Ramadan tetap tinggi terlihat dari aktivitas masjid yang masih ramai oleh jamaah meskipun mereka harus menghadapi udara dingin yang mencapai sekitar 16 hingga 18 derajat Celsius saat hujan mengguyur. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa akibat cuaca ekstrem tersebut, sementara kerugian materiil khususnya pada lahan pertanian warga masih dalam proses pendataan oleh pihak terkait.






















Discussion about this post