Beritapers.com, Makassar- Di balik senyum wisuda yang menghiasi wajah Andi Muhammad Syukur, yang akrab disapa Andi Syukur atau Askur, tersimpan perjalanan panjang yang tidak semua orang mampu melaluinya. Perjalanan yang dipenuhi kehilangan, air mata, doa, harapan, dan keteguhan untuk terus melangkah di tengah berbagai ujian kehidupan.
Tahun 2008 menjadi titik awal perjalanan itu. Saat usianya masih sangat muda dan masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar, Andi Syukur harus menerima kenyataan pahit kehilangan ibundanya. Sebelum berpulang, sang ibu menitipkan sebuah harapan sederhana namun besar agar anaknya kelak dapat mengenyam pendidikan pesantren dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik.
Pesan itulah yang kemudian menjadi kompas hidupnya.
Sepeninggal sang ibu, Andi Syukur dibawa pulang ke kampung halaman ibunya di Desa Kebo, Kabupaten Soppeng. Sebelumnya ia tinggal di Kota Watansoppeng. Di kampung itulah ia dibesarkan oleh kakek, nenek, tante serta keluarga besarnya yang penuh kasih sayang.
Ia tumbuh di kawasan bantaran Sungai Walennae, dalam kehidupan desa yang sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Lingkungan tersebut menjadi sekolah kehidupan pertamanya. Di sanalah ia belajar tentang keteguhan, kerja keras, dan arti keluarga. Ia mengenal nilai-nilai budi pekerti, tata krama, penghormatan kepada orang yang lebih tua, serta berbagai ajaran adat Bugis yang menempatkan adab dan martabat sebagai landasan kehidupan.
Nilai-nilai itulah yang kemudian membentuk karakter dan cara pandangnya dalam melihat dunia hingga hari ini.
Namun kehidupan kembali mengujinya. Nenek yang menjadi tempatnya bermanja berpulang pada tahun 2010, saat ia masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar. Delapan tahun kemudian, tepat pada tahun 2018 ketika ia akan memasuki kelas tiga Aliyah, kakeknya juga meninggal dunia. Kehilangan demi kehilangan harus diterima oleh seorang anak yang masih berusaha memahami kerasnya kehidupan.
Meski demikian, keadaan tidak membuatnya menyerah. Ia memilih tetap melanjutkan pendidikan sebagaimana harapan yang pernah dititipkan oleh ibunya.
Andi Syukur kemudian menempuh pendidikan di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, mulai dari tingkat Tsanawiyah hingga Aliyah pada tahun 2013 hingga 2019. Di lingkungan pesantren itulah ia tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, serta nilai-nilai keagamaan yang semakin menguatkan dirinya.
Tahun 2019 menjadi babak baru dalam kehidupannya ketika ia diterima di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar. Dunia kampus memperluas cakrawala berpikirnya dan mempertemukannya dengan berbagai pengalaman yang membentuk kedewasaan intelektual maupun sosial. Di masa ini, ia mulai aktif dalam berbagai gerakan kemahasiswaan, advokasi, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Selama menjalani masa perkuliahan, Andi Syukur aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng (IMPS), Himpunan Mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum (HMJ PMH), Jaringan Gusdurian, Gerakan Pemuda Ansor, serta Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Melalui organisasi-organisasi tersebut, ia belajar tentang kepemimpinan, pengabdian, serta pentingnya memperjuangkan gagasan demi kemajuan masyarakat.
Konsistensi dan pengabdiannya kemudian mengantarkannya untuk mengemban amanah sebagai salah satu pengurus Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sulawesi Selatan (BADKO HMI Sulsel).
Perjalanan hidup yang mempertemukannya dengan lingkungan pesantren, dunia akademik, organisasi, serta kebudayaan lokal membentuk perhatian khusus terhadap hubungan antara agama dan budaya. Hingga hari ini, ia aktif mengajar, berdiskusi, dan berbicara di berbagai forum mengenai pentingnya keselarasan antara budaya dan agama sebagai bagian dari upaya menjaga identitas manusia di tengah arus perubahan zaman.
Perhatian tersebut juga tercermin dalam karya akademiknya. Pada jenjang magister, ia mengangkat tesis berjudul Tradisi Pattaungeng Saoraja Baringeng pada Masyarakat Baringeng Kabupaten Soppeng Perspektif ’Urf. Melalui penelitian itu, ia berupaya menunjukkan bahwa tradisi dan agama tidak selalu berada dalam posisi yang saling bertentangan, melainkan dapat saling menguatkan dalam membangun kehidupan masyarakat yang beradab.
Baginya, modernitas dan kemajuan zaman tidak boleh membuat seseorang tercerabut dari akar budayanya. Sebab budaya dan agama bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dapat berjalan beriringan untuk membentuk manusia yang beradab.
Pada tahun 2023, Andi Syukur berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya. Momen itu menjadi salah satu kenangan paling berharga dalam hidupnya karena sang ayah masih sempat menyaksikan keberhasilan tersebut. Ia masih sempat pulang, mencium tangan ayahnya, dan mempersembahkan gelar sarjana itu sebagai buah dari perjuangan keluarga.
Namun dua tahun kemudian, tepat pada tahun 2025, ayah yang selama ini menjadi sandaran hidupnya berpulang ke rahmatullah. Kepergian tersebut meninggalkan luka yang sangat mendalam. Dari tujuh anggota keluarga inti yang dahulu hidup bersama, kini hanya tersisa tiga orang yang masih hidup.
Di tengah masa-masa sulit itu, dua orang tantenya hadir menjadi penopang utama. Keduanyalah yang merawat dan membesarkan Askur sejak kecil hingga dewasa. Mereka menguatkan langkahnya, menghapus air matanya dengan nasihat, serta memastikan bahwa perjuangan yang telah dirintis tidak berhenti di tengah jalan.
Alih-alih menyerah pada keadaan, Andi Syukur memilih melanjutkan perjalanan akademiknya. Dengan segala keterbatasan dan kesedihan yang harus dihadapi, ia tetap berusaha menuntaskan pendidikan magister yang telah dimulainya.
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2026, ia berhasil menyelesaikan pendidikan magisternya dan berdiri sebagai salah satu wisudawan dengan membawa kisah perjuangan yang tidak sederhana.
Pada momen wisuda itu, ia membawa sebuah foto kedua orang tuanya ketika menziarahi leluhur keluarga di Lamuru, Bone, serta di Soppeng dan Wajo. Foto itu menjadi saksi bahwa setiap langkah yang ia tempuh hari ini merupakan buah dari doa, cinta, dan pengorbanan orang-orang yang telah mendahuluinya.
Saat dipanggil naik sebagai salah satu wisudawan, ia membawa foto itu di tangannya. Rektor UIN Alauddin Makassar, Hamdan Juhannis, kemudian bertanya, “Foto siapa yang kamu bawa?”
Ia menjawab, “Ini foto almarhum kedua orang tua saya, Prof. Karena merekalah saya bisa seperti ini.”
Sang Rektor terdiam sejenak, lalu berkata, “Selamat. Mereka telah sukses melahirkan orang baik.”
Ia hanya bisa mengaminkan. Sebab sesungguhnya, wisuda ini bukan semata tentang gelar yang disematkan hari ini. Ia adalah tentang doa-doa yang terus hidup, tentang kasih sayang yang tidak ikut terkubur bersama jasad, dan tentang harapan orang tua yang tetap menemukan jalannya untuk sampai kepada anak-anaknya.
Di setiap pencapaian yang diraihnya hari ini, ada nama-nama yang tidak lagi dapat dipanggil dan dipeluk. Ada ibu yang lebih dahulu pergi dengan sebuah harapan. Ada ayah yang mengajarkan keteguhan hingga akhir hayat. Ada pula kakek dan nenek yang pernah menjadi rumah bagi masa kecilnya.
Mereka memang tidak hadir di kursi wisuda. Namun jejak cinta, kasih sayang, dan doa mereka tetap hidup dalam setiap langkah yang membawanya sampai ke titik ini.
Bagi Andi Syukur, gelar Magister bukan sekadar capaian akademik. Gelar itu adalah simbol dari amanah seorang ibu, perjuangan seorang ayah, kasih sayang kakek dan nenek, serta dukungan keluarga yang terus mengiringinya dalam doa.
Kisah ini mengajarkan bahwa kehilangan tidak harus menjadi akhir dari perjalanan. Sebaliknya, dari luka yang paling dalam sekalipun, seseorang dapat menemukan alasan untuk terus bangkit, melangkah, dan mewujudkan cita-citanya.
Hari ini, Andi Syukur tidak hanya merayakan gelar Magister yang berhasil diraihnya. Ia sedang merayakan kemenangan atas segala kesedihan yang pernah mencoba menghentikan langkahnya.
Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan sebuah pesan sederhana namun abadi: bahwa doa orang tua tidak pernah benar-benar berakhir, bahkan ketika mereka telah tiada.






















Discussion about this post