BERITAPERS || PAREPARE – Langit Parepare masih gelap ketika angin laut berembus di sekitar Masjid Terapung BJ Habibie, Jalan Mattirotasi, Kelurahan Cappa Galung, Sabtu (17/10/2026). Di antara suasana hening menjelang fajar, sekitar 80 jamaah mulai berdatangan untuk menunaikan salat Subuh.
Namun, pagi itu ada pemandangan yang menghadirkan suasana berbeda. Di antara jamaah yang memenuhi masjid, sejumlah personel Polres Parepare hadir tanpa sekat, tanpa seremoni, dan tanpa jarak dengan masyarakat.
Kabag Ops Polres Parepare Kompol Slamet Paryanto, Kasat Lantas AKP Rusdi Yunus, Kapolsek Bacukiki AKP Bustan Tarika, serta para Bhabinkamtibmas dari sejumlah kelurahan, termasuk Lemoe, Galung Maloang, Cappa Galung, dan Lumpue, turut berbaur bersama jamaah.
Mereka tidak datang untuk memimpin apel ataupun menyampaikan pidato resmi. Pagi itu, mereka hadir sebagai sesama umat Muslim, berdiri dalam saf yang sama, menundukkan kepala dalam doa yang sama, dan menyapa masyarakat dengan keakraban.
Salat Subuh dipimpin Imam Ustadz Muh. Rifai. Setelah salam diucapkan, suasana masjid tidak serta-merta menjadi lengang. Sejumlah jamaah tetap duduk, berbincang santai, dan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pertemuan sederhana itulah, kedekatan antara polisi dan masyarakat menemukan maknanya.
Bagi sebagian masyarakat, polisi kerap identik dengan penanganan perkara, penindakan pelanggaran, atau kehadiran ketika suatu masalah telah terjadi. Namun, melalui kegiatan salat Subuh berjamaah, Polres Parepare berupaya membangun pendekatan yang lebih humanis: hadir lebih awal, mendengar langsung, dan membuka ruang komunikasi dengan warga.
Salah seorang warga Cappa Galung, Drs. Muh. Bahtiar, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan keresahan yang selama ini dirasakan masyarakat, khususnya para orang tua.
Ia menyoroti aktivitas sejumlah anak muda yang kerap kebut-kebutan pada malam hari, aksi balap liar, hingga perilaku kelompok remaja yang berpotensi mengganggu ketenteraman lingkungan.
Kekhawatiran itu bukan sekadar persoalan kebisingan di jalanan. Di baliknya, ada kecemasan orang tua terhadap keselamatan anak-anak mereka, ada harapan agar lingkungan tetap aman, serta ada keinginan agar generasi muda tidak terjerumus dalam perilaku yang membahayakan masa depan mereka.
“Kami orang tua jadi khawatir kalau anak keluar malam,” ujar Muh. Bahtiar.
Ungkapan singkat itu menggambarkan kegelisahan yang membutuhkan perhatian bersama. Sebab, keamanan lingkungan bukan hanya tentang seberapa cepat polisi menangani pelanggaran, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan tenang tanpa dihantui rasa takut.
Menanggapi keluhan tersebut, Kompol Slamet Paryanto dan AKP Bustan Tarika memberikan penjelasan mengenai langkah-langkah kepolisian dalam mengantisipasi balap liar dan gangguan keamanan pada malam hari.
Mereka menyampaikan bahwa kepolisian terus melakukan patroli, terutama pada jam-jam rawan, untuk mencegah aksi yang dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan maupun mengganggu ketertiban masyarakat.
Salah satu upaya yang dilakukan Polres Parepare ialah mengerahkan Tim Senggol untuk menyisir sejumlah ruas jalan yang dianggap rawan, termasuk lokasi yang berpotensi menjadi arena balap liar.
Patroli dilaksanakan pada malam hari hingga menjelang Subuh. Selain itu, patroli blue light juga dilakukan untuk meningkatkan kehadiran polisi di tengah masyarakat, termasuk di kawasan permukiman.
Kapolsek Bacukiki AKP Bustan Tarika menegaskan bahwa upaya menjaga keamanan tidak dapat hanya dibebankan kepada kepolisian. Dukungan masyarakat melalui kepedulian dan penyampaian informasi juga menjadi bagian penting dalam mencegah gangguan kamtibmas.
“Kami patroli tiap malam. Tapi kami tidak bisa sendiri. Kami butuh warga yang kasih tahu kalau ada yang mencurigakan,” kata AKP Bustan.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan kejadian atau aktivitas yang mencurigakan kepada Bhabinkamtibmas di wilayah masing-masing maupun melalui layanan darurat Kepolisian 110 yang dapat diakses secara gratis.
Menurutnya, informasi dari masyarakat dapat membantu kepolisian mengetahui kondisi di lapangan dan menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya tugas aparat berseragam. Ada peran keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seluruh warga dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi semua orang.
Imam Masjid Terapung BJ Habibie, H. Muhabar, turut hadir dalam suasana kebersamaan tersebut. Percakapan berlangsung santai, tanpa jarak formal antara aparat dan warga.
Tidak ada panggung besar ataupun rangkaian acara yang berlebihan. Yang terlihat justru kesederhanaan: polisi mendengarkan, warga berbicara, dan persoalan lingkungan dibahas secara langsung.
Di ruang seperti inilah kepercayaan dapat tumbuh. Masyarakat memperoleh kesempatan menyampaikan keresahan tanpa harus menunggu persoalan membesar, sementara polisi dapat memahami persoalan keamanan dari sudut pandang orang-orang yang merasakannya setiap hari.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa pendekatan humanis bukan berarti mengesampingkan penegakan hukum. Sebaliknya, kedekatan dengan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan langkah pencegahan dan penindakan terhadap pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum.
Ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 05.30 WITA, fajar mulai menyinari kawasan pesisir Parepare. Jamaah perlahan meninggalkan masjid untuk kembali menjalani aktivitas masing-masing.
Personel kepolisian yang sebelumnya duduk bersama warga turut berpamitan dan menyalami jamaah di pintu masjid.
Momen itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi masyarakat yang setiap malam dihantui kekhawatiran akan balap liar dan gangguan keamanan, kehadiran aparat yang bersedia mendengar secara langsung dapat menjadi awal tumbuhnya harapan.
Sebab, rasa aman tidak selalu dimulai dari sirene kendaraan patroli atau tindakan penegakan hukum. Terkadang, rasa aman tumbuh dari percakapan setelah salat Subuh, dari keluhan yang didengar dengan sungguh-sungguh, dan dari kesediaan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Di Masjid Terapung BJ Habibie, Polres Parepare menunjukkan bahwa membangun keamanan bukan hanya soal menjaga jalanan tetap tertib, melainkan juga merawat kepercayaan agar masyarakat merasa memiliki tempat untuk mengadu, didengar, dan dilindungi.
Karena pada akhirnya, polisi yang dekat dengan masyarakat bukan hanya mereka yang hadir ketika masalah terjadi, tetapi juga mereka yang bersedia datang, mendengar, dan membangun kepercayaan sebelum masalah itu membesar.










