BeritaPers.Makassar || Malam ke-24 Ramadhan 1447 H, Jumat, 13 Maret 2026, menjadi catatan sejarah yang menggetarkan bagi jamaah Masjid Al-Ikhlas Malewang. Di saat fisik mulai lelah di penghujung bulan suci, suasana masjid justru mendadak “terbakar” oleh energi luar biasa. Dua remaja kelas 10 SMK Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin Limbung hadir bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai magnet yang menyedot perhatian seluruh lingkungan Sudiang.
Suasana di sekitar masjid nampak berbeda sejak waktu Isya. Parkiran meluap, dan warga yang biasanya berdiam di rumah nampak berbondong-bondong merapat ke shaf depan. Kehadiran dua “singa muda” dari pesantren ternama ini membawa aura wibawa yang melampaui usia mereka. Ada desas-desus kekaguman yang menjalar di antara jamaah, menciptakan atmosfer penantian yang penuh antusiasme terhadap apa yang akan disuguhkan oleh putra-putra terbaik Gowa ini.
Mimbar masjid seakan bergetar saat Farhan Dwiputra naik untuk membawakan ceramah berjudul “Semua Karena Allah”. Farhan bukan sekadar bicara; ia sedang mempertontonkan genetika unggul. Sebagai putra kedua dari tokoh yang disegani, Bapak Muh Anwar HM, Farhan membuktikan bahwa mentalitas baja dan kemampuan public speaking yang memukau adalah warisan mutlak. Jika sang ayah dikenal dengan ketegasan dan kepemimpinannya, Farhan adalah versi muda yang lebih tajam, berani, dan mampu membedah kedalaman makna tauhid dengan gaya retorika yang meledak-ledak namun tetap santun.
Keberanian Farhan berdiri di atas mimbar di depan ratusan jamaah dewasa menunjukkan kematangan mental yang jarang ditemukan pada remaja seusianya. Ia adalah cermin dari didikan Bapak Muh Anwar HM yang sukses menanamkan rasa percaya diri tanpa batas. Penampilan Farhan malam itu bukan sekadar ceramah rutin, melainkan sebuah deklarasi bahwa estafet kepemimpinan umat telah lahir dari rahim keluarga yang penuh disiplin dan integritas tinggi. Pujian layak disematkan kepada sang ayah yang berhasil mencetak “replika” dengan kualitas vokal dan wibawa yang bahkan mungkin melampaui masanya.
Guncangan spiritual tak berhenti di situ. Saat shalat tarawih dimulai, giliran Muh Adil Basyawi yang mengambil alih kemudi spiritual sebagai imam. Putra dari pasangan Bapak Basir dan Ibu Sawiyah ini yang juga tokoh masyarakat dan Ketua Majlis Taklim di Desa Bolaromang membawa ketenangan luar biasa ke dalam masjid. Suaranya yang jernih dan fasih seakan menjadi jembatan yang menghubungkan hati para jamaah langsung ke langit. Adil bukan hanya menghafal, ia menjiwai setiap huruf yang keluar dari lisan sucinya.

Pujian tak henti mengalir untuk kedua orang tua Adil. Bapak Basir dan Ibu Sawiyah nampaknya telah menanamkan nilai-nilai Qurani yang begitu dalam, hingga putra mereka mampu berdiri tegak memimpin shalat dengan ketenangan seorang ulama besar. Kesalehan yang terpancar dari Adil adalah bukti nyata dari keberkahan tangan dingin kedua orang tuanya dalam mendidik anak di lingkungan Desa Bolaromang, menjadikan Adil sebagai kebanggaan yang melampaui batas desanya.
Bapak Bayu, selaku pengurus Masjid Al-Ikhlas, nampak tak bisa menyembunyikan rasa haru sekaligus takjubnya. “Jujur, kami terperangah. Farhan dengan materinya yang sangat berisi dan cara penyampaian yang ‘menggigit’, ditambah dengan Adil yang lantunan ayat-ayatnya membuat bulu kuduk berdiri, ini adalah kombinasi langka. Mereka masih kelas 10, tapi kualitasnya sudah setara dai-dai kondang,” ungkapnya dengan nada penuh apresiasi.
Tanggapan jamaah pun beragam dan penuh kesan. Seorang jamaah bapak-bapak di shaf depan nampak berkaca-kaca, “Saya melihat Farhan bicara, saya teringat ayahnya, tapi ini versinya lebih muda dan bertenaga. Benar-benar kejutan besar untuk kami di malam 24 ini.” Sementara jamaah lain menambahkan, “Imamnya tadi (Adil) suaranya empuk sekali, sampai-sampai saya tidak terasa kalau rakaat tarawih sudah selesai. Rasanya mau nambah lagi kalau beliau yang pimpin.”
Ada pula tanggapan unik dari salah seorang jamaah remaja yang nampak terpaku. “Aduh, lihat mereka berdua saya jadi merasa ‘berdosa’ kalau cuma main HP terus. Gaya Farhan tadi itu keren sekali, seperti orator ulung. Kalau penceramahnya model begini terus, masjid tidak akan pernah sepi dari anak muda,” ujarnya sambil tertawa kecil namun nampak sangat terinspirasi.
Kegiatan malam itu menjadi tamparan positif sekaligus harapan besar bagi generasi muda lainnya. Di tengah gempuran budaya digital yang melalaikan, Farhan dan Adil muncul sebagai simbol bahwa menjadi santri dan berilmu agama adalah hal yang paling prestisius. Mereka adalah bukti hidup bahwa pendidikan di SMK Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin mampu melahirkan sosok yang tidak hanya kompeten secara akademis, tapi juga tangguh secara mental dan spiritual.

Harapan besar diletakkan pada pundak remaja-remaja di Sudiang dan sekitarnya agar mampu mengikuti jejak kedua pemuda ini. Kegiatan seperti ini diharapkan terus berlanjut sebagai sarana regenerasi. Kita membutuhkan lebih banyak “Farhan” yang berani menyuarakan kebenaran dengan lantang, dan lebih banyak “Adil” yang mampu menyejukkan hati umat dengan lantunan Kalamullah.
Malam ke-24 Ramadhan di Masjid Al-Ikhlas Malewang akhirnya ditutup dengan doa yang khusyuk, namun semangat yang ditinggalkan oleh Farhan dan Adil tetap membekas di hati para jamaah. Sudiang malam itu menjadi saksi bahwa masa depan umat Islam ada di tangan-tangan pemuda yang berkarakter, bermental baja, dan memiliki kedekatan spiritual yang kokoh kepada Sang Pencipta.






















Discussion about this post