BeritaPers. Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir diselimuti oleh suasana syahdu. Awan mendung yang menggantung konsisten di langit kota Daeng membawa hawa sejuk yang menenangkan, seolah alam sedang mengajak warganya untuk sejenak memperlambat ritme duniawi. Suasana melankolis ini mengiringi langkah ratusan jemaah menuju Masjid Nurul Istiqamah yang terletak strategis di Jl. Cokonuri Raya No. 1, Makassar, guna menunaikan kewajiban salat Jumat (19/12).
Masjid Nurul Istiqamah berdiri kokoh dengan arsitektur dua lantai yang representatif. Di tengah cuaca Makassar yang lembap, kondisi di dalam masjid terasa sangat nyaman dan kondusif berkat tata ruang yang lapang dan sirkulasi udara yang terjaga. Kebersihan lantai serta fasilitas masjid yang terawat memberikan ketenangan batin bagi setiap jemaah yang datang untuk bersimpuh di hadapan Sang Khalik.
Sebelum azan berkumandang, suasana masjid diisi dengan laporan rutin yang dibawakan oleh Hamzah, seorang mahasiswa Jurusan PKN Universitas Negeri Makassar (UNM). Dengan suara yang lugas dan transparan, Hamzah membacakan laporan keuangan masjid, mulai dari saldo kas, pemasukan infak Jumat lalu, hingga pengeluaran untuk operasional kemakmuran masjid. Keterlibatan mahasiswa dalam struktur kepanitiaan ini menunjukkan adanya regenerasi yang sehat dalam pengelolaan masjid tersebut.
Bertindak sebagai khatib pada kesempatan kali ini adalah Dr. Muh Anwar, HM. Beliau merupakan sosok akademisi yang disegani, menjabat sebagai dosen di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Alauddin Makassar. Kehadiran beliau di mimbar Jumat membawa bobot intelektualitas sekaligus kedalaman spiritual, mengingat rekam jejak beliau yang aktif dalam dunia pendidikan Islam dan dakwah di Sulawesi Selatan.
Dalam khutbahnya yang bertajuk “Menyadari Waktu Terus Berlalu dan Usia Makin Berkurang”, Dr. Muh Anwar menyampaikan pesan yang sangat relevan dengan kondisi akhir tahun. Beliau menekankan bahwa setiap detak jantung adalah langkah menuju titik akhir kehidupan. Waktu, menurutnya, adalah modal utama manusia yang seringkali disia-siakan tanpa disadari, padahal ia adalah aset yang tidak dapat diputar kembali atau dibeli dengan materi sehebat apa pun.
Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa berkurangnya usia fisik seharusnya dibarengi dengan peningkatan kualitas iman dan amal saleh. Beliau mengajak jemaah untuk melakukan audit diri (muhasabah) atas apa yang telah dilakukan di masa lalu. “Jangan sampai raga menua, namun jiwa tetap kerdil,” tegasnya di atas mimbar, mengingatkan jemaah agar menjadikan sisa umur sebagai ladang pengabdian yang lebih bermakna.
Setelah khutbah berakhir, prosesi salat Jumat dipimpin oleh Ahmad Muammar. Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Hadis UIN Alauddin Makassar yang kini menempuh semester tiga tersebut bertindak sebagai imam. Penunjukan Ahmad Muammar sebagai imam seolah menegaskan bahwa Masjid Nurul Istiqamah memberikan ruang bagi para penuntut ilmu agama untuk mengaplikasikan kemampuannya di tengah masyarakat.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ahmad Muammar mengalun dengan sangat syahdu dan merdu. Teknik tilawah yang mumpuni dengan makhraj yang fasih membuat suasana di dalam masjid terasa kian khusyuk. Getaran suara sang imam seakan meresap ke dalam sanubari jemaah, menciptakan atmosfer spiritual yang kental di tengah gemericik hujan rintik yang mulai turun di luar masjid.
Keberhasilan penyelenggaraan ibadah Jumat ini tidak lepas dari peran Ketua Pengurus Masjid Nurul Istiqamah, Abd Kadir Saile. Sosoknya yang rendah hati namun tegas dalam manajerial masjid terlihat dari bagaimana ia memantau setiap detail jalannya ibadah, mulai dari penyambutan tamu hingga kenyamanan saf jemaah. Baginya, masjid harus menjadi rumah yang ramah bagi siapa saja yang ingin beribadah.
Ditemui usai shalat, Abd Kadir Saile memberikan apresiasi tinggi terhadap materi yang dibawakan oleh Dr. Muh Anwar. Menurutnya, pilihan tema tersebut sangat menyentuh sisi kemanusiaan jemaah yang seringkali lalai karena kesibukan dunia. “Materi beliau bukan sekadar ceramah rutin, tapi tamparan lembut bagi kita semua untuk melihat kembali tujuan hidup yang sebenarnya,” ungkap Abd Kadir dengan raut wajah penuh syukur.
Ia juga menambahkan bahwa sosok Dr. Muh Anwar adalah figur pendidik yang mampu menyederhanakan konsep agama yang berat menjadi pesan yang mudah dicerna oleh masyarakat awam. Abd Kadir menilai bahwa kepakaran sang dosen FTK UIN tersebut dalam membedah fenomena sosial dari kacamata agama sangat dibutuhkan untuk menjaga moralitas umat, terutama di era yang serba cepat ini.
Rangkaian ibadah Jumat di Masjid Nurul Istiqamah pun ditutup dengan zikir bersama. Jemaah membubarkan diri dengan tertib, membawa pulang pesan mendalam tentang hakikat waktu yang mereka dengar. Di tengah mendungnya Makassar, cahaya ilmu yang terpancar dari mimbar Nurul Istiqamah hari ini diharapkan menjadi lentera bagi jemaah dalam menjalani sisa usia mereka dengan lebih bijaksana.






















Discussion about this post