BERITAPERS || Sukabumi, Jawa Barat – Di tengah keterbatasan hidup dan tantangan zaman, masih ada sosok luar biasa yang menjadi teladan bagi kita semua. Dialah Bapak Empan Supandi, seorang guru di pedalaman, yang tetap teguh mengabdi demi pendidikan anak-anak bangsa.
Dengan penghasilan hanya sekitar Rp200.000 per bulan, Bapak Empan tidak pernah sekalipun mengeluh. Setiap hari, ia rela menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer dengan berjalan kaki, melewati teriknya matahari dan derasnya hujan, demi sampai ke sekolah tempat ia mengajar.
“Kalau hujan pasti terlambat, tapi berapapun jamnya saya tetap mengajar,” tutur Bapak Empan penuh semangat.
Dedikasinya bukan hanya sekadar kewajiban, melainkan panggilan hati. Di saat sebagian orang lebih memilih menyerah karena keterbatasan, beliau tetap maju, meyakini bahwa pendidikan adalah cahaya masa depan anak-anak di desanya.
Cerita ini menjadi tamparan bagi kita semua. Bagaimana mungkin seorang guru, yang sejatinya adalah pahlawan tanpa tanda jasa, justru masih ada yang hidup dalam keterbatasan, bahkan kadang dianggap beban negara?
Sungguh ironis ketika ada pihak yang menerima gaji besar tanpa jelas kontribusinya, sementara di sisi lain ada guru dengan pengabdian luar biasa namun hanya menerima bayaran sekadar cukup untuk bertahan hidup.
Kita lebih rela bila gaji guru dinaikkan, sebab tanpa mereka, tak akan ada pejabat, dokter, insinyur, atau bahkan pemimpin negeri ini. Bapak Empan Supandi adalah bukti nyata bahwa guru sejati tidak hanya mengajar ilmu, tetapi juga memberi keteladanan hidup tentang kesabaran, keteguhan, dan pengabdian tulus untuk bangsa.
Semoga kisah ini mengetuk hati pemerintah dan kita semua, untuk lebih menghargai perjuangan para guru di pelosok negeri, karena dari merekalah lahir generasi masa depan Indonesia.




















Discussion about this post