BeritaPers. Sirenja || – Paradoks dunia pendidikan hari ini adalah memaksakan siswa menjadi pintar dengan cara-cara mengajar yang kuno dan membosankan. Menolak tunduk pada kenyamanan semu tersebut, SMA Negeri 1 Sirenja Kabupaten Donggala mengambil langkah ekstrem dengan menggelar Workshop Pendidikan Hypnoteaching bertajuk “Great Teacher for the Smart Student” pada Kamis, 11 Juni 2026. Kegiatan radikal ini sengaja diinisiasi untuk meruntuhkan tembok pembatas mental antara guru dan murid, sekaligus memformat ulang metode pembelajaran konvensional menuju era komunikasi bawah sadar yang revolusioner.
Maksud utama dari workshop ini adalah membekali para pendidik dengan seni komunikasi persuasif dan sugesti positif yang berbasis pada ilmu psikologi serta neurosains. Tujuannya sangat krusial: menghapus trauma belajar pada siswa, menciptakan atmosfer kelas yang magnetis, dan memastikan materi pelajaran dapat terkunci rapat di memori jangka panjang siswa tanpa paksaan. Diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan (tendik), workshop ini menjadi momentum krusial bagi SMAN 1 Sirenja untuk menyaring mana pendidik yang benar-benar siap menjadi inspirasi, dan mana yang sekadar menggugurkan kewajiban mengajar.
Gebrakan ini resmi dibuka oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Sirenja, Bapak Yusri, S.Pd. Dalam sambutannya yang sarat akan otokritik, beliau menegaskan bahwa sistem pendidikan akan lumpuh jika guru menolak untuk berevolusi. “Dunia sudah berubah total, jika guru masih mengandalkan ancaman, bentakan, atau metode ceramah yang menidurkan, maka kita sedang menghancurkan masa depan anak didik kita sendiri. Hari ini kita beruntung mendatangkan pakarnya langsung untuk membedah isi kepala kita semua,” tegas Bapak Yusri dalam narasi pembukaannya yang membakar semangat ruang pertemuan.
Lebih lanjut, Bapak Yusri memuji rekam jejak sang pemateri yang dianggapnya sebagai figur langka di dunia kepelatihan publik. Di mata beliau, sang narasumber bukan sekadar pengajar teori, melainkan seorang arsitek komunikasi yang mampu mengubah ketegangan kelas menjadi ruang belajar yang adiktif. Kehadiran sang pemateri diharapkan mampu menyuntikkan energi baru dan meruntuhkan kejenuhan metodologis yang selama ini menghantui para guru dan tendik di lingkungan sekolah.
Aktor utama di balik layar pembedahan mental guru ini tidak lain adalah Coach Muh Anwar. HM. Beliau merupakan Expert Trainer of Public Speaking sekaligus akademisi senior yang dikenal luas memiliki jam terbang tinggi dalam mengawinkan ilmu manajemen, retorika kepemimpinan, dan pendekatan psikologis. Sosok Coach Muh Anwar. HM di panggung pelatihan selalu berhasil mencuri perhatian; beliau tampil dengan karisma yang kuat, pembawaan yang hangat namun tegas, serta memiliki kepekaan emosional yang tinggi terhadap audiensnya, menjadikannya figur mentor ideal yang sangat disegani.

Dalam memaparkan materi hypnoteaching yang dikenal rumit dan sarat dengan istilah psikologi, Coach Muh Anwar. HM menunjukkannya dengan cara yang sangat komplit namun dikemas dalam bahasa yang sangat sederhana dan membumi. Beliau mereduksi teori-teori berat menjadi analogi sehari-hari yang renyah, diselingi simulasi praktis, sehingga langsung mudah dipahami oleh seluruh peserta. Kemampuan retorikanya yang magis membuat materi mengalir tanpa hambatan, mengubah konsep bawah sadar yang abstrak menjadi formula taktis yang siap diaplikasikan di kelas esok hari.
Jalannya diskusi yang dinamis dan provokatif ini dikendalikan dengan apik oleh Bapak Gunawan Manangkari, S.Pd., Gr selaku moderator. Ketajaman beliau dalam menjembatani argumen dan mengelola ritme tanya jawab membuat suasana workshop tetap hidup dan terarah sejak menit pertama hingga akhir. Seluruh guru dan tendik yang menjadi peserta dipaksa keluar dari zona nyaman mereka, terlibat aktif dalam sesi praktik sugesti, dan diuji langsung pemahamannya di depan forum.
Antusiasme sekaligus kepasrahan para peserta tercermin jelas dari berbagai testimoni pasca-kegiatan. Peserta pertama mengakui bahwa materi ini seperti tamparan keras bagi profesionalismenya sebagai guru. Ia merasa disadarkan bahwa selama ini ia sering menyalahkan kebebalan siswa, tanpa pernah mengevaluasi apakah frekuensi komunikasinya sudah selaras dengan gelombang otak sang anak, dan kehadiran Coach Anwar dinilainya sebagai jawaban atas kebuntuan mengajar yang ia alami selama bertahun-tahun.
Peserta kedua ikut memberikan pandangan yang mendalam mengenai sosok pemateri. Menurutnya, Coach Muh Anwar. HM bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga mencontohkan langsung apa itu hypnoteaching melalui pembawaannya sendiri yang menghipnotis seisi ruangan. Struktur penjelasannya yang runtut, logis, namun menyentuh hati membuat materi yang sejatinya berat terasa begitu ringan dan sangat logis untuk segera dipraktikkan demi mencetak siswa-siswa cerdas.
Berbeda dengan nada serius sebelumnya, peserta ketiga melontarkan komentar bernada satir, lucu, namun menembus ulu hati. “Materi Coach Anwar ini benar-benar ‘nusuk’ dan bikin saya sadar diri. Selama ini saya pikir murid-murid mengantuk di kelas karena mereka kurang tidur atau begadang main game, ternyata setelah mendengar penjelasan Coach tadi, saya baru tahu kalau suara dan cara mengajar sayalah yang bertindak sebagai obat bius paling manjur buat mereka,” selorohnya diiringi tawa renyah peserta lain.
Sama tajamnya, peserta keempat memberikan ulasan jenaka yang tak kalah menohok bagi rekan-rekan sejawatnya. “Selama pelatihan saya cuma bisa tersenyum getir sambil menahan malu. Coach Anwar dengan bahasanya yang super santun sukses menelanjangi dosa-dosa mengajar kami; kami ini sering menuntut siswa punya otak secerdas Einstein, tapi gaya kami mengajar di kelas masih mirip kompeni zaman penjajahan yang hobi menebar ketakutan,” ungkapnya blak-blakan.
Melalui workshop hypnoteaching yang menguras emosi dan membuka cakrawala ini, SMAN 1 Sirenja kini resmi memulai era baru dalam pendekatan pedagogis mereka. Agenda ekstrem ini sukses menyuntikkan kesadaran kolektif bahwa untuk melahirkan siswa yang cerdas (Smart Student), maka mutlak diperlukan guru yang hebat (Great Teacher) yang mampu menguasai hati sebelum menguasai otak anak didiknya. Langkah radikal ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Donggala untuk segera berbenah dan berhenti menjadi beban bagi potensi masa depan siswa.





















Discussion about this post