BERITAPERS || MAKASSAR — Rabu, 11 Februari 2026. Upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus berkembang di Kota Makassar. Salah satunya dilakukan oleh Ketua RW 04, Kelurahan Kunjung Mae, Kecamatan Mariso, Muhammad Thohad, yang secara konsisten mengembangkan budidaya magot sebagai solusi pengolahan sampah organik rumah tangga.
Budidaya magot yang dikelola Thohad telah berjalan selama dua tahun terakhir. Program ini memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (Hermetia illucens) yang dikenal mampu mengurai sampah organik dengan cepat dan efisien. Selain mengurangi volume sampah, proses ini juga menghasilkan pupuk organik yang ramah lingkungan.
Menariknya, Muh. Thohad telah memulai budidaya magot jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Ketua RW. Namun sejak resmi memimpin RW 04 pada akhir tahun 2025, pengelolaan program tersebut dilakukan secara lebih terstruktur dengan melibatkan partisipasi aktif warga setempat.
“Setelah jadi ketua RW, konsistensinya lebih meningkat,” ujar Muhammad Thohad saat ditemui di Jalan Cendrawasih, Makassar, Rabu (11/2/2026).
Di wilayah RW 04 yang terdiri dari sekitar 200 rumah, Thohad menerapkan sistem pemilahan sampah dari sumbernya. Setiap rumah diberikan ember kecil yang secara khusus digunakan untuk menampung sisa makanan dan sampah organik rumah tangga. Sampah yang telah terkumpul kemudian dipindahkan ke media budidaya magot berupa ember cat berukuran besar yang telah dimodifikasi.
Media tersebut dilengkapi dengan kran di bagian bawah untuk menampung cairan hasil penguraian sampah oleh magot. Cairan tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair yang digunakan untuk menyuburkan berbagai jenis tanaman.
“Pupuknya sudah dipakai, sudah menumbuhkan tanaman obat,” ungkap Thohad.
Pupuk organik hasil budidaya magot tersebut digunakan untuk merawat tanaman, termasuk tanaman obat keluarga (TOGA) yang ditanam di sepanjang lorong menuju kediamannya. Keberadaan tanaman tersebut tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi warga sekitar.
Program budidaya magot ini merupakan bagian dari konsep Urban Farming yang sejalan dengan salah satu prioritas Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. Program tersebut mendorong peran aktif RT dan RW dalam pengelolaan lingkungan, khususnya dalam pengurangan sampah dari sumbernya.
Melalui inisiatif ini, Thohad berharap kesadaran warga terhadap pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah semakin meningkat. Ia juga menilai bahwa pengolahan sampah organik berbasis lingkungan dapat menjadi solusi nyata dalam mengatasi permasalahan sampah perkotaan.
Budidaya magot di RW 04 Kunjung Mae kini menjadi contoh praktik baik pengelolaan sampah berbasis komunitas yang berkelanjutan, sekaligus mendukung ketahanan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat lokal. (MLP)










