“Alih-alih dicetak dalam bentuk buku, saya memilih media digital agar cerita-cerita ini bisa diakses lebih luas dan menjangkau pembaca di luar Bulukunyi. Harapannya, kisah-kisah lokal ini bisa menginspirasi lebih banyak orang,” jelasnya.
Program Jejak Bulukunyi menjadi bagian dari kontribusi sosial mahasiswa KKN Unhas yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada penguatan narasi kemanusiaan dan identitas lokal. Inisiatif ini juga menjadi langkah kecil dalam merawat ingatan kolektif masyarakat desa.
Tak hanya menghidupkan semangat literasi, program ini menjadi jembatan antara generasi muda dan nilai-nilai luhur yang tumbuh dari akar budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dengan semangat belajar dari yang dekat dan menginspirasi dari yang nyata, Ainun berharap bahwa Jejak Bulukunyi dapat menjadi cermin bagi siapa saja dalam melihat potensi luar biasa di balik kesederhanaan desa.
Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa kontribusi mahasiswa dalam KKN bisa lebih dari sekadar program kerja lapangan. Ia dapat menjadi ruang refleksi, wadah empati, dan ajakan untuk lebih menghargai kehidupan masyarakat di akar rumput.










