BERITAPERS || Parepare 15 Juli 2026 – Program filtrasi air sungai, edukasi kawasan hutan lindung, dan keterlibatan perempuan mendapat perhatian masyarakat dalam Seminar Program Kerja KKN-T Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin di kantor Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare.
Ketua RW 5, Basrianto, menyampaikan dukungannya terhadap program filtrasi air sungai menggunakan filter sederhana.
Program tersebut dinilai memberikan manfaat langsung karena sebagian masyarakat masih menggunakan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami mengapresiasi filtrasi air sungai karena program ini bersentuhan langsung dengan masyarakat. Insyaallah, RW 5 siap mendukung kegiatan tersebut,” kata Basrianto.
Filtrasi air sungai merupakan salah satu program individu mahasiswa yang bertujuan meningkatkan kualitas air melalui teknologi penyaringan sederhana.
Selain air bersih, persoalan kawasan hutan lindung juga menjadi topik pembahasan dalam seminar.
Mahasiswa memaparkan program sosialisasi penyelesaian sengketa pertanahan di kawasan hutan lindung dan edukasi hukum lingkungan mengenai peran hutan dalam mitigasi perubahan iklim.
Ketua RW 1, Jamal, menjelaskan sebagian masyarakat telah mengelola lahan di sekitar kawasan hutan secara turun-temurun.
Namun, penetapan batas kawasan menyebabkan sejumlah lahan yang selama ini dikelola warga masuk ke dalam wilayah hutan lindung.
“Hampir semua lahan masyarakat pada beberapa titik masuk dalam batas kawasan hutan lindung. Warga membutuhkan penjelasan mengenai batas wilayah dan solusi terhadap status lahan yang telah dikelola turun-temurun,” kata Jamal.
Basrianto menyarankan agar materi mengenai kawasan hutan lindung dan sengketa pertanahan tidak hanya disampaikan oleh mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa perlu bekerja sama dengan instansi atau narasumber yang benar-benar memahami peraturan kehutanan dan pertanahan.
“Untuk persoalan hutan lindung, sebaiknya menghadirkan pihak yang memiliki kewenangan dan memahami masalah tersebut agar informasi yang diterima masyarakat tidak keliru,” ujar Basrianto.
Selain persoalan lahan, Ketua RW 6, Alwi, mengusulkan pemasangan papan penanda batas wilayah antara Kelurahan Watang Bacukiki dan Kelurahan Lemoe.
Ia mengatakan masih terdapat titik perbatasan yang belum memiliki papan nama atau penanda wilayah yang jelas.
Tokoh perempuan Watang Bacukiki, Dina, turut menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan dalam program perubahan iklim.
Menurutnya, perempuan merupakan salah satu kelompok yang berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sampah rumah tangga.
“Persoalan perubahan iklim juga berkaitan dengan aktivitas perempuan, mulai dari dapur, pengelolaan sampah, hingga penggunaan kantong plastik ketika berbelanja,” kata Dina.
Ia berharap ibu-ibu dan kelompok perempuan tidak hanya menjadi peserta sosialisasi, tetapi dilibatkan dalam pelaksanaan dan keberlanjutan program.
Program penggunaan reusable tote bag dinilai dapat menjadi salah satu kegiatan yang melibatkan perempuan dalam mengurangi sampah plastik sekali pakai.
Selain itu, program pemanfaatan plastik bekas dan edukasi pengelolaan sampah rumah tangga juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan kelompok perempuan dan sekolah.
Seorang tenaga pendidik yang hadir menyampaikan bahwa pihak sekolah terbuka untuk berkolaborasi dalam program daur ulang sampah dan edukasi lingkungan kepada siswa.
Seminar tersebut menjadi sarana untuk mempertemukan rencana mahasiswa dengan pengalaman serta kebutuhan masyarakat.
Melalui masukan warga, mahasiswa KKN-T Unhas Gelombang 116 diharapkan dapat melibatkan narasumber yang berkompeten, memperkuat partisipasi perempuan, serta menjalankan program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Watang Bacukiki.





















Discussion about this post