Lero, Suppa — Senin 29 September 2025. Pelaksanaan Maulid Akbar di Desa Lero tahun ini berlangsung istimewa. Kegiatan bernuansa agama yang dipadukan dengan budaya Mandar tersebut menjadi salah satu tradisi yang selalu ditunggu masyarakat, khususnya anak-anak yang telah berhasil khatam Al-Qur’an.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan kali ini diikuti jumlah peserta terbanyak, yakni 43 kuda yang digunakan dalam arak-arakan. Jumlah tersebut merupakan rekor baru dalam kurun waktu pelaksanaan acara serupa selama ini.
Tradisi ini sengaja digelar dua tahun sekali. Menurut panitia, jika dilaksanakan setiap tahun, jumlah anak-anak yang khatam Al-Qur’an tidak begitu banyak. Dengan jeda dua tahun, jumlah peserta lebih ramai sehingga suasana lebih meriah dan memberikan motivasi bagi anak-anak lainnya untuk segera menyelesaikan bacaan Al-Qur’an mereka.
Salah satu ciri khas acara ini adalah anak-anak yang telah khatam Al-Qur’an diberi penghargaan dengan cara diarak menggunakan kuda. Tradisi ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi anak dan keluarga, tetapi juga menjadi simbol penghormatan atas keberhasilan mereka.
Peserta arak-arakan tahun ini tidak hanya berasal dari Kabupaten Pinrang, tetapi juga ada yang datang dari luar daerah, seperti Makassar, Kendari, bahkan dari Kalimantan dan Sulawesi Barat. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ini semakin dikenal luas dan menjadi daya tarik budaya tersendiri.
Terkait biaya, setiap peserta diperkirakan mengeluarkan dana sekitar Rp15 juta, mencakup sewa kuda, rebana pengiring, arak-arakan, serta hiburan yang digelar di rumah masing-masing.
Pj Kepala Desa Lero, Ahmad Syarif, S.Spdi, menyampaikan apresiasi tinggi atas suksesnya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa Maulid Akbar di Desa Lero bukan hanya seremonial, melainkan bentuk perpaduan antara nilai keagamaan dan budaya Mandar yang harus terus dilestarikan.
“Kami sangat bangga dengan antusiasme masyarakat, baik yang ada di Lero maupun dari luar daerah. Tradisi ini bukan hanya memotivasi anak-anak untuk khatam Al-Qur’an, tetapi juga memperkuat identitas budaya kita. Pemerintah desa akan terus mendukung agar kegiatan ini tetap menjadi agenda kebanggaan bersama,” ujar Ahmad Syarif.
Pemerintah daerah berharap kegiatan ini terus dilestarikan sebagai bentuk perpaduan antara adat, budaya, dan agama. Perayaan Maulid Akbar di Desa Lero bukan hanya sekadar seremoni, melainkan juga wadah mempererat silaturahmi dan menjaga warisan budaya Mandar yang kental dengan nilai-nilai keagamaan. (Mlp)










