Pertama, seleksi internal berupa placement test wajib dilakukan untuk memetakan kemampuan mahasiswa baru. Ini penting agar proses pembelajaran lebih efektif dengan pengelompokan kelas berdasarkan level kemampuan.
Kedua, perlu diterapkan program matrikulasi non-SKS yang bersifat wajib, khusus untuk materi dasar seperti kaidah nahwu-sharf, mufradat, dan keterampilan menyimak serta berbicara. Tujuannya adalah memastikan semua mahasiswa memiliki fondasi yang sama sebelum memasuki perkuliahan inti.
Ketiga, bagi mahasiswa tingkat menengah dan tinggi, diperlukan bimbingan lanjutan berbasis pendekatan aplikatif dan aktif—seperti diskusi, simulasi, dan praktik langsung—agar kemampuan berbahasa tidak hanya teoritis, tetapi juga fungsional.
Terakhir, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum. Mata kuliah yang kurang relevan dengan kebutuhan dunia kerja harus dikaji ulang atau disesuaikan agar tidak menghambat perkembangan kompetensi utama mahasiswa.
Dengan langkah-langkah konkret ini, jurusan Bahasa dan Sastra Arab tidak hanya bisa meningkatkan kualitas lulusannya, tetapi juga menjawab tuntutan zaman. Kini saatnya jurusan berbenah—karena masa depan lulusan bergantung pada keberanian kita untuk berubah.
Keterampilan bahasa Arab sejatinya sangat dinantikan masyarakat—bukan sekadar sebagai ilmu, tetapi sebagai alat pembinaan agama, pendidikan, dan profesionalisme kerja.
Ironisnya, kita sering minder dengan lulusan Timur Tengah, padahal tidak semua dari mereka mampu mengajar, membina, apalagi menghidupkan kursus bahasa Arab secara aplikatif.
Inilah peluang besar bagi lulusan lokal: jika mampu menguasai metode dan keterampilan nyata, mereka tak hanya layak bersaing—mereka bisa memimpin.
Jangan sampai lulusan dalam negeri hanya jadi penonton di tanah sendiri karena lemah dalam maharah dasar yang seharusnya bisa dilatih sejak dini.










